Akurat

Komitmen Kuat Pemerintah Bangun Infrastruktur Pangan Nasional

Mukodah | 2 Agustus 2024, 19:14 WIB
Komitmen Kuat Pemerintah Bangun Infrastruktur Pangan Nasional

AKURAT.CO Pemerintah berkomitmen menguatkan pembangunan infrastruktur pangan, terutama dalam meningkatkan produksi pangan nasional.

Penguatan tersebut dilakukan melalui pembangunan embung, irigasi, mekanisasi dan penciptaan lahan pertanian baru, melalui optimalisasi lahan rawa yang saat ini terus digencarkan.

Dalam sambutannya dalam acara "Refleksi dan Catatan 10 Tahun Pemerintahan Jokowi Bidang Konstruksi, Infrastruktur dan Investasi", Presiden Joko Widodo menekankan bahwa infrastuktur juga meliputi sektor pertanian.

"Kalau kita melihat anggaran infrastruktur itu tidak hanya di Kementerian PUPR saja, tetapi juga ada di Kementerian Pertanian dan Kementerian Perhubungan," ujar Presiden di Auditorium Menara Bank Mega Jakarta, pada Rabu (31/7/2024).

Berkat sumbangannya terhadap pembangunan nasional, Presiden Jokowi dianugerahi penghargaan sebagai Bapak Konstruksi Indonesia.

Presiden mengatakan, sejak awal kepemimpinan, dirinya berfokus pada pembangunan berbagai infrastruktur.

Baca Juga: Polisi Akan Uji Digital Forensik Ponsel 2 Tersangka Penyebar Video Syur Mirip Audrey Davis

Termasuk infrastruktur konstruksi, infrastuktur energi, infrastuktur untuk industri dan juga infrastruktur pangan.

Bersamaan, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, juga turut mendapatkan penghargaan Construction Excellence Awards atas kontribusi dan dedikasinya terhadap pembangunan infrastruktur nasional, terutama sektor pertanian selama 10 tahun pemerintahan Presiden Jokowi.

Penghargaan ini diberikan langsung Ketua Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), Andi Rukma Nurdin.

Menurut Kabiro Humas dan Informasi Publik Kementan, Moch Arief Cahyono, Mentan Amran memang memberikan perhatian besar terhadap infrastruktur pertanian.

Pada periode itu Kementan terus memperkuat infrastruktur pertanian, seperti pembangunan dan rehabilitasi irigasi, modernisasi dan mekanisasi pertanian serta pembangunan infrastuktur pendukung dan jalan usaha tani.

"Kementan bisa melakukan pembangunan masif di bidang infrastuktur pertanian karena Menteri Pertanian melakukan refocusing anggaran 2015-2017 sebesar Rp12,2 triliun. Kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial direvisi menjadi anggaran untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian," jelas Arief.

Baca Juga: KPU DKI Gandeng Dinkes Tentukan RS Tempat Pemeriksaan Kesehatan Cagub-Cawagub

Pada periode pertama kepemimpinannya tahun 2014-2019, Arief menyebutkan bahwa Kementan berhasil membangun dan merehabilitasi sekitar 3,4 juta hektare irigasi.

Ini termasuk irigasi baru dan perbaikan irigasi existing.

Kementan saat itu juga memasifkan modernisasi dan mekanisasi pertanian melalui pemberian bantuan traktor, combine harvester serta alat dan mesin pertanian (alsintan) lainnya.

Tercatat Kementan mendistribusikan lebih dari 300 ribu unit alsintan kepada petani di seluruh Indonesia.

Kementan pada periode pertama kepemimpinan Andi Amran Sulaiman juga bersinergi dengan Kementerian PUPR untuk membangun embung, dalam meningkatkan ketersediaan air bagi pertanian, terutama di daerah-daerah rawan kekeringan.

Pada periode 2014-2019, pemerintah berhasil membangun lebih dari 4.000 embung di berbagai daerah.

Baca Juga: Polisi Telusuri 10 Anak di Daycare Wensen School untuk Cari Kemungkinan Korban Lain

"Terobosan ini mampu mendongkrak produktivitas lahan yang sebelumnya kurang optimal karena kekurangan air," kata Arief.

Berbagai terobosan Andi Amran Sulaiman di bidang infrastuktur pertanian berdampak pada peningkatan produksi pangan.

Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 2017, 2019 dan 2020.

Selain juga swasembada untuk komoditas jagung, bawang merah, cabai, daging ayam dan telur.

Terobosan infrastruktur pertanian juga berdampak pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian.

PDB pertanian pada akhir tahun 2014 hanya mencapai Rp880,40 triliun, namun kemudian meningkat secara signifikan setiap tahunnya yaitu mencapai Rp906,80 triliun (pada 2015), Rp936,40 trilliun (2016), Rp969,80 triliun (2017) dan kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2018 yang mencapai Rp1.005,40 triliun.

Baca Juga: 5 Fitur Baru Google Maps dan Waze yang Membantu Pengemudi

Gebrakan Pompanisasi dan Optimasi Lahan Rawa

Saat kembali menjabat sebagai Menteri Pertanian pada Oktober tahun lalu, Andi Amran Sulaiman terus memberikan gebrakan-gebrakan di bidang infrastruktur pertanian.

Apalagi saat ini, dunia sedang dihadapkan dengan potensi krisis pangan global dan dampak perubahan iklim kekeringan.

Pada tahun 2024, Kementan mengusung program pompanisasi sebagai solusi cepat mengantisipasi dampak kekeringan pada produksi pangan nasional.

Kementan telah menargetkan 75.000 unit pompa untuk disebar di banyak titik irigasi di Indonesia.
Sejauh ini telah diaplikasikan pompa sebanyak 63.000 unit.

Dikutip dari pernyataan sebelumnya, Andi Amran Sulaiman menyebutkan program pompanisasi sangat berdampak pada peningkatan produksi beras.

Padahal saat ini pertanian Indonesia dihadapkan pada tantangan kemarau panjang.

Baca Juga: Usai Melahirkan, Tengku Dewi Putri Buka Komunikasi dengan Andrew Andika, Rujuk Nih?

"Hasilnya nyata, saya ulangi. Pompanisasi adalah biasanya tanam satu kali menjadi tiga kali. Biasanya karena tergantung hujan, tetapi ketika kita tumpahkan air itu langsung bisa menjadi tanam tiga kali. Ada Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat itu ada kurang lebih 500 ribu hektare. Bayangkan kalau 500 ribu hektare kita pompa dan luar Jawa 501 juta kali lima ton saja, enggak usah 10 tahun, itu lima juta ton. Kita menekan impor," paparnya.

Kementan di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman juga kembali menggiatkan optimasi lahan rawa yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan pertanian.

Bekerja sama dengan TNI, Kementan telah mengembangan optimasi lahan rawa di daerah seperti Papua Selatan dan Sumatera Selatan, termasuk Kabupaten Merauke dan Ogan Ilir.

Salah satu output utama yang diterapkan adalah peningkatan indeks pertanaman (IP), dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali tanam per tahun.

Dengan berbagai terobosan telah dilaksanakan, Andi Amran Sulaiman mengharapkan Indonesia akan kembali mengejar swasembada pangan dalam tiga tahun ke depan.

"Swasembada diusahakan dalam waktu cepat. Insya Allah tidak lebih dari tiga tahun kita akan swasembada kembali," katanya, melalui siaran resmi yang diterima, Jumat (2/8/2024).

Baca Juga: Jika Timbulkan Polemik, PP Kesehatan Perlu Direvisi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK