Akurat

Peminat PTKIN Turun, Menag: Pasti Ada yang Kurang

Wahyu SK | 26 Juni 2024, 20:11 WIB
Peminat PTKIN Turun, Menag: Pasti Ada yang Kurang

AKURAT.CO Jumlah pendaftar dan peminat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mengalami penurunan setiap tahunnya.

Data Kementerian Agama mencatat peminat masuk PTKIN dalam rentang tiga tahun terakhir berjumlah 111.452 siswa pada 2022, berjumlah 110.101 siswa di 2023 dan 111.124 siswa di tahun ini.

Adapun, jumlah pendaftar pada tahun 2022 berjumlah 100.879 siswa, tahun 2023 sebanyak 97.115 siswa, dan tahun 2024 berjumlah 93.819 siswa.

"Pasti ada sesuatu yang kurang dari kita. Bisa jadi cara kita mensyiarkan pentingnya kuliah di PTKIN ini masih kurang, atau kita masih sering menggunakan cara-cara lama dari cara-cara baru agar anak-anak SMA itu tertarik masuk UIN atau PTKIN," kata Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, dalam keterangan yang diterima, Rabu (26/6/2024).

Baca Juga: Kerja Sama, HSBC dan Plaza Indonesia Tingkatkan Pengalaman Berbelanja dan Kuliner

Menurut Menag, PTKIN harus mencontoh kisah sukses dari madrasah-madrasah di Indonesia.

Di mana, sejumlah madrasah hingga kini masih menjadi tempat favorit orang tua untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

Secara sistem, Menag menilai seleksi elektronik ujian masuk PTKIN sudah cukup menjadi cara mengajak anak-anak menimba ilmu di PTKIN.

"Secara tidak langsung, sebenarnya kita menyadari warna digital itu jadi dunia anak sekarang. Tetapi, di lain sisi cara mempromosikan perguruan tinggi kita belum mengikuti dunia anak-anak kita," jelasnya.

Menurut Menag, saat ini tidak banyak PTKIN yang agresif melakukan penetrasi di media sosial.

Oleh sebab itu, ia meminta masing-masing PTKIN perlu membuat tim yang secara khusus bermain di media sosial, lebih aktif membicarakan soal kampus.

Baca Juga: Shopee Gandeng 4 Perusahaan Logistik, Pastikan Pengiriman Barang Tepat Waktu

"Tidak cukup kalau hanya mengandalkan forum-forum offline, berapa yang bisa kita jangkau. Intervensi ke media sosial itu penting dan yang tidak kalah penting adalah kontennya," ujar Menag.

"Kontennya jangan kaku-kaku, kontennya harus memiliki cara berfikir anak-anak sekarang tanpa harus menyebut PTKIN mana, saya sudah melihat PTKIN yang sudah mulai bermain di media sosial, tetapi kontennya kurang menarik," ucapnya.

Selain itu, PTKIN perlu meningkatkan kolaborasi dengan sekolah-sekolah menengah atas atau sekolah umum maupun madrasah.

Serta memberikan beasiswa yang menarik minat calon peserta didik.

"Saya memiliki optimisme yang kuat atas PTKIN, karena apa yang diajarkan di PTKIN ini berbeda dengan Perguruan Tinggi Negeri. Kita memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh PTN. Saya meyakini, di tengah gempuran ideologi budaya yang serba borderless, tidak ada batasan. Ilmu-ilmu yang diajarkan di PTKIN itu bisa menjadi benteng pertahanan terakhir," Menag menerangkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK