Akurat

IKN Nusantara sebagai Tri-City Baru di Dunia

Eko Krisyanto | 25 Maret 2024, 23:40 WIB
IKN Nusantara sebagai Tri-City Baru di Dunia

AKURAT.CO Sudah beberapa kali Otorita Ibu Kota Nusantara melalui Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi, Agung Wicaksono, menyampaikan bahwa Nusantara dibangun berdasarkan konsep Tri-City yang menjunjung konektivitas tiga kota yakni Samarinda, IKN Nusantara dan Balikpapan.

Namun jika dikaji lebih dalam, apa yang dimaksud terminologi Tri-City tersebut?

Tri-City pada dasarnya adalah sebuah terminologi yang digunakan untuk mengategorikan sebuah wilayah ataupun kota yang memiliki kesamaan letak geografis. Dalam hal ini, Samarinda, Nusantara dan Balikpapan adalah tiga kota yang memiliki kedekatan letak wilayah.

Dengan adanya persamaan wilayah, diharapkan ketiga kota tersebut dapat saling berinteraksi bahkan membentuk poros perekonomian yang kuat bagi sebuah negara.

Pemerintah Indonesia dalam mengusung konsep tersebut di pembangunan IKN turut mengamati beberapa Tri-City terkemuka di dunia.

Baca Juga: Dari Yogyakarta hingga IKN Nusantara, Kenapa Bisa Disebut Otonomi Khusus?

Seperti di Australia, di mana Canberra yang merupakan ibu kota diapit oleh dua pusat ekonomi terkuat Melbourne dan Sydney serta keberadaan Canberra yang menengahi memiliki peranan yang penting untuk memudahkan jalannya administratif negara.

Konsep Tri-City tersebut diharapkan dapat mempercepat ekosistem ekonomi tiga kota yang saling mendukung sebagai penggerak ekonomi regional dan nasional.

Deputi Agung pada Forum Second Hong Kong Asean Summit 2023 (9/10/2023) juga menjelaskan bahwa landasan konseptual perencanaan konsep Tri-City pada IKN adalah hasil analisis pada Greater Bay Area di China.

Di mana Hong Kong, Guangzhou dan Macau terbukti mampu menjadi salah satu pusat kekuatan ekonomi China yang mendukung satu sama lain.

Konsep Tri-City tersebut diharapkan dapat mempercepat kemajuan perekonomian ketiga tersebut dengan prinsip bahu membahu.

Namun jika kita menelisik lebih dalam terkait kekuatan ekonomi Balikpapan dan Samarinda sebagai kaki dan tangan IKN Nusantara nantinya tidak mencerminkan kesuksesan yang diharapkan oleh pemerintah Indonesia.

Balikpapan merupakan salah satu kota di Kalimantan Timur yang memiliki PDRB ketiga tertinggi di provinsinya sebesar Rp127,3 triliun.

Baca Juga: Indonesia Gandeng Finlandia Wujudkan IKN Nusantara Jadi Kota Paling Bahagia di Dunia

Struktur ekonomi Kota Balikpapan sebagian besar terbentuk dari industri pengolahan dengan porsi 47,20 persen, 15,81 persen pada konstruksi dan 10,75 persen pergudangan/transportasi.

Potensi yang dimiliki Balikpapan pun juga cukup menarik. Pada sektor energi di Kota Balikpapan terdapat pengolahan minyak bumi terbesar di Indonesia oleh Pertamina Refinery Unit V Balikpapan.

Kemudian pada sektor transportasi udara maupun air, Balikpapan juga berhasil mencetak angka fantastis pada tahun 2022, di mana mobilitas penerbangan mencakup tiga juta penumpang serta Pelabuhan Semayang yang mengalami peningkatan layanan penyeberangan antarpulau hingga 98 persen.

Sedangkan Samarinda yang merupakan salah satu kota yang akan merangkul IKN memiliki PDRB Rp83,34 triliun yang 20,51 persennya adalah kontribusi dari sektor konstruksi, 16,7 persen dari perdagangan reparasi mobil/motor dan 15,66 persen dari komoditas pertambangan dan penggalian.

Berdasarkan kekuatan ekonomi kedua kota tersebut beserta sektor potensial yang dimilikinya masih belum memungkinkan dapat menjadi kendaraan yang bisa melaju kencang bagi pertumbuhan ekonomi IKN Nusantara. Pasalnya proyeksi Bappenas terhadap kekuatan ekonomi IKN memiliki ekspektasi yang sangat tinggi.

Dilansir dari Naskah Akademik RUU IKN, Bappenas memproyeksikan PDRB IKN mencapai Rp430 triliun.

Jika dibandingkan dengan ekonomi Balikpapan dan Samarinda sebagai kaki tangan pembangunan, seharusnya mereka memiliki kekuatan ekonomi yang setara atau bahkan melebihi dari proyeksi Bappenas tersebut.

Hal ini dikarenakan fungsi dari kedua kota tersebut diharapkan dapat membimbing IKN untuk memajukan ekonominya, bukan malah menjadi beban ke depannya.

Untuk meminimalisir ketertinggalan perputaran ekonomi, Samarinda dan Balikpapan harus melakukan inisiasi megaproyek yang memiliki DNA masing-masing daerah.

Dengan didukung mobilitas tinggi antara ketiga daerah tersebut, tata kelola perencanaan hingga pelaksanaan yang matang dan menargetkan profitabilitas berkelanjutan.

Dengan inisiasi dasar tersebut, diharapkan Samarinda, Nusantara dan Balikpapan dapat berjalan selayaknya komitmen Tri-City yang bercita-cita memiliki posisi krusial di dunia. (Baginda Sunan Hilmy)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK