Merawat Semangat Bineka Tunggal Ika Selama Pemungutan Suara Pemilu 2024

AKURAT.CO Menjelang pemungutan suara Pemilu 2024, isu persatuan dan kesatuan bangsa kembali menjadi sorotan.
Di tengah maraknya propaganda perpecahan di ruang digital, penting untuk memperkuat nilai-nilai Bineka Tunggal Ika.
Guru Besar UIN Walisongo, Semarang, Prof. Dr. Syamsul Ma'arif, M.Ag., memaparkan pandangannya tentang bagaimana menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah perbedaan. Menurutnya, keanekaragaman adalah modal sosial yang luar biasa bagi Indonesia.
Modal ini harus dioptimalkan dan tidak boleh dihilangkan. Tidak banyak bangsa di dunia ini yang memiliki negara yang mampu menaungi begitu banyak suku dan bangsa, di atas satu platform yang sama yakni Pancasila dan UUD 1945.
"Penguatan nilai-nilai kebersamaan, kohesi dan musyawarah mufakat sangat penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," ujar Prof. Syamsul dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (12/4/2024).
Ia menekankan pentingnya memahami nilai-nilai kearifan lokal yang mempertemukan dan mengharmoniskan perbedaan.
Baca Juga: Peserta Pemilu 2024 Diminta Lebih Santai dan Introspeksi Diri Selama Masa Tenang
Pemerintah, tokoh agama dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
"Pemerintah harus men-support upaya-upaya yang menjumpakan dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan," kata Prof. Syamsul.
Menurut akademisi yang juga menjabat Ketua FKPT Jawa Tengah periode 2022-2025 ini, kerukunan dan kebersamaan elemen masyarakat juga dipengaruhi oleh peran dari para tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Para tokoh harus bisa menjadi teladan dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian melalui perspektif ajaran agamanya masing-masing. Tokoh agama dan tokoh masyarakat sering kali menjadi acuan bagi tingkatan grass root dalam berperilaku, bertutur kata hingga dalam caranya menentukan sikap bernegara.
"Masyarakat sipil juga harus berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dengan cara terlibat dalam berbagai kegiatan yang memperkuat nilai-nilai kebersamaan," jelasnya.
Prof. Syamsul mengajak masyarakat untuk menjadikan Pemilu 2024 sebagai momen untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Ia beranggapan bahwa Pemilu adalah pintu untuk merayakan demokrasi dan menjadi bangsa yang hebat.
Bangsa Indonesia harus belajar menghargai perbedaan dalam hal memilih pemimpin yang diidealkan bersama.
Cara untuk menangkal narasi intoleransi dan radikalisme di ruang digital, di antaranya adalah keinginan tinggi untuk memperkaya literasi sehingga masyarakat Indonesia menjadi cerdas dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang ingin merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
Selain itu, masyarakat Indonesia, baik secara daring ataupun luring, perlu merayakan pesta demokrasi dengan mengedepankan persaudaraan.
Dalam momentum seperti Pemilu 2024 nanti, perbedaan pilihan adalah suatu keniscayaan. Tidak hanya berbeda pilihan dengan tetangga ataupun teman, bahkan dalam satu keluarga saja bisa beda pilihan dan pandangan politiknya.
Baca Juga: Waspada 'Serangan Fajar' di Masa Tenang Pemilu 2024
"Kita harus merayakan demokrasi dengan cara yang damai dan mengedepankan persaudaraan," kata Prof. Syamsul.
Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Dengan segala perubahan gaya hidup masyarakat dan kecanggihan teknologi di era modern, sebaiknya tidak melunturkan semangat gotong royong yang menjadi local wisdom bagi bangsa Indonesia.
"Mari kita rawat kebersamaan dengan saling peduli dan tidak individualis. Kita harus memiliki rasa tanggung jawab bersama untuk menyelesaikan masalah-masalah secara bersama-sama," ujarnya.
Prof. Syamsul menjelaskan, berdemokrasi yang sehat berarti mengerti bahwa pemilu adalah sarana untuk bersatu, bukan bermusuhan.
Beda pilihan tidak masalah, yang penting masyarakat yang memiliki hak pilih yakin dengan pilihannya masing-masing.
Keyakinan atas calon yang didukung perlu didasarkan pada alasan yang masuk akal. Yakin jika pilihannya adalah yang terbaik bagi Indonesia, namun tanpa perlu menjatuhkan pilihan dari orang lain.
Prof. Syamsul pun berharap Pemilu 2024 dapat berjalan dengan damai dan menghasilkan pemimpin yang terbaik untuk bangsa Indonesia.
"Mari kita bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kita harus literat dan memilih pemimpin sesuai dengan pilihan masing-masing. Beda pilihan tidak masalah, yang penting kita punya presiden," ujarnya.
Mengakhiri penjelasannya, Prof. Syamsul menekankan pentingnya agar sesama anak bangsa harus saling menghormati dan menjaga stabilitas harmoni kebinekaan Indonesia.
"Jika ada yang beda sedikit, biarkan saja selama tidak merusak. Perbedaan itu adalah jembatan untuk mengukir kebersamaan dan merajut Indonesia yang lebih hebat dan bermartabat," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








