Akurat

Kepala BIN Segera Diganti, Sudah Waktunya

Atikah Umiyani | 23 November 2023, 13:33 WIB
Kepala BIN Segera Diganti, Sudah Waktunya
 
AKURAT.CO Isu pergantian Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan, terus berembus.
 
Lamanya Budi Gunawan menjabat menjadi salah satu faktor yang ikut disorot.
 
Sorotan itu salah satunya datang dari Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin. Ia menilai, saat ini memang sudah waktunya Presiden Joko Widodo ingin mengganti Budi Gunawan.
 
"Seandainya diganti ya mungkin jabatannya sudah terlalu lama dan sudah paling lama kan Pak Budi Gunawan jadi Kepala BIN. Jadi, bisa jadi sudah waktunya Pak Presiden meminta untuk diganti," kata Ujang kepada Akurat.co, Kamis (23/11/2023).
 
 
Di sisi lain, Ujang juga menyoroti adanya sinyalemen BIN yang berpotensi terlibat dalam mendukung salah satu pasangan capres di Pilpres 2024. Hal ini dinilai turut menjadi penyebab mengapa isu pergantian Kepala BIN terus menguat.
 
"Ya kita tahulah, bukan rahasia umum juga bahwa instrumen negara sperti BIN itu kan dijadikan alat politik juga untuk kepentingan kemenangan," ujarnya.
 
Sebagai informasi, dugaan keberpihakan Kepala BIN muncul usai beredar surat pakta integritas yang melibatkan Binda Papua Barat untuk mendukung pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
 
Namun, Ujang tak bisa memastikan apakah pada akhirnya penggantian Kepala BIN akan dilakukan. Menurutnya, semua bergantung pada putusan Presiden Jokowi.
 
"Yang jelas itu kewenangan dari Jokowi, mengganti atau tidaknya Kepala BIN dengan siapapun ya itu kewenangan Presiden," ucapnya.
 
 
Ujang juga tak menutup kemungkinan penggantian akan tetap dilakukan. Sejumlah faktor yang bisa menjadi penyebab yaitu adanya keretakan hubungan antara Jokowi dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Juga soal adanya dugaan ketidaknetralan BIN.
 
"Apakah akibat ada keretakan antara Pak Jokowi dengan Megawati, bisa iya, bisa tidak. Bisa ada hubungannya, bisa juga tidak. Apakah ada hubungannya dengan adanya pakta integritas di Sorong untuk memenangkan capres tertentu itu, bisa iya, bisa tidak," jelasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
W
Editor
Wahyu SK