Bung Hatta: Sang Proklamator Yang Tak Mampu Membeli Sepatu Bally

AKURAT.CO Mohammad Hatta, Sang Proklamator Republik Indonesia memang dikenal dengan gaya hidupnya yang sangat sederhana, jujur dan bersahaja.
Bung Hatta memiliki pendirian yang teguh dan bijaksana. Ia rela meninggalkan segala kemewahan yang umumnya dimiliki oleh para pejabat negara. Pendirian yang begitu kokoh terus bertahan bahkan hingga akhir hayatnya pada 14 Maret 1980.
Banyak sekali cerita tentang kesederhanaan Bung Hatta. Salah satunya cerita tentang sepatu Bally, sepatu yang diidam-idamkan namun tak pernah Bung Hatta miliki hingga akhir hayatnya.
Pada 1950-an, Bally merupakan merek sepatu bermutu tinggi yang paling terkenal di Indonesia. Keinginan Bung Hatta memiliki sepatu Bally baru diketahui ketika ia wafat. Di dompetnya terselip guntingan iklan sepatu Bally, merek sandang berbalut kulit mewah asal Swiss.
Bung Hatta mungkin bisa saja membelinya melalui tabungan yang ia kumpulkan dari hasil kerjanya. Namun, uang yang ia tabung tak pernah cukup membeli sepatu ternama itu. Bung Hatta lebih mengutamakan uang yang ia miliki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membantu kerabat atau saudara yang kerap datang ke rumahnya untuk meminta bantuan.
Jika Bung Hatta tak mempedulikan nasib kerabat dan saudaranya, sudah tentu ia mampu membeli sepatu idamannya itu. Lagi pula, sebenarnya Bung Hatta tak perlu sulit-sulit menabung untuk membeli sepatu karena ia merupakan orang terpandang di Indonesia bahkan dunia. Bisa saja ia menggunakan kekuasaannya untuk memenuhi keinginannya itu. Namun lagi-lagi, bukan Bung Hatta namanya bila menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Bung Hatta begitu mencintai Indonesia. Ia serahkan jiwa dan raganya hanya untuk negeri ini. Hal ini bisa dilihat salah satunya dari keteguhan pendirian Bung Hatta yang mengatakan tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.
Hal ini pun benar ia wujudkan. Bung Hatta baru menikah ketika usia 43 tahun, tepatnya pada 18 November 1945 dengan Rachmi. Ketika menikah pun, mas kawin yang diberikan Bung Hatta hanya berupa buku berjudul "Alam Pikiran Yunani" yang ia tulis sendiri semasa menjadi tahanan Belanda di Banda Neira pada 1930-an.
Kisah lainnya mengenai sikap integritas Bung Hatta adalah berkenaan dengan pemotongan mata uang ORI (Oeang Republik Indonesia). Pada 1950-an, saat masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI, Bung Hatta pernah ditanya sang istri berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang memotong mata uang Rp100 menjadi Rp1.
Rachmi bertanya karena kebijakan tersebut membuatnya tak bisa membeli mesin jahit yang sudah lama diinginkannya dan ia telah menabung setelah sekian lama. Dengan adanya kebijakan pemotongan nilai rupiah, maka tabungan Rachmi berkurang nilainya. Bung Hatta pun tak pernah memberitahu Rachmi berkenaan dengan kebijakan ini sebelumnya.
Sebagai suami, tentu Bung Hatta memahami perasaan istrinya. Bung Hatta pun berkata "Sungguh pun saya bisa percaya kepadamu tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya".
Bagi Bung Hatta, kehidupan pribadi dan pekerjaan mesti dipisahkan. Itu lah yang menjadi alasan mengapa Bung Hatta tak memberi tahu Rachmi atau satu pun keluarganya mengenai kebijakan ini.
Banyak sekali kisah Bung Hatta yang tak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Misalnya ketika Bung Hatta memarahi sekretarisnya, I Wangsa Wijaya karena menggunakan tiga lembar kertas Sekretariat Negara untuk membuat surat kantor wapres. Bung Hatta kemudian mengganti tiga lembar kertas itu dengan uang kas wapres.
Ia juga menanamkan hal serupa pada keluarganya. Suatu kali, Gemala, putri Bung Hatta sempat bekerja di Konsulat Jenderal Indonesia di Sydney. Gemala pun mengirim surat pada ayahnya menggunakan amplop milik Konsulat dengan cap resmi. Surat itu pun dibalas Bung Hatta dengan nasihat "Kalau menulis surat kepada ayah dan lain-lainnya janganlah pakai kertas Konsulat Jenderal Indonesia. Surat-surat Gemala kan surat pribadi, bukan surat dinas".
Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1956 karena mulai tak sepaham dengan Soekarno. Setelah pensiun, keuangan Bung Hatta semakin sulit karena uang pensiun yang sangat kecil.
Untuk mengatasi kesulitan ekonominya ini, Bung Hatta mengatasinya dengan mengirim tulisannya pada para penerbit kala itu. Putri Bung Hatta pernah menyarankan untuk menyediakan bokor sebagai tempat menaruh uang bagi para tamu yang berkunjung ke rumah. Namun saran itu ditolak mentah-mentah.
Meski Bung Hatta tak sepaham dengan Soekarno, namun ia tak membenci Soekarno. Hal ini bisa terlihat ketika Bung Hatta datang dan menghibur Soekarno saat kejatuhan Sang Proklamator, yang mana saat itu tidak ada satu pun kalangan pejabat datang melihat Soekarno terbaring sakit.
Bung Hatta juga pernah mengembalikan kelebihan uang pengobatannya ketika ia berobat di luar negeri. Saat itu, 1970-an, Mahar Mardjono, mantan Rektor Universitas Indonesia menjadi saksi ketika Bung Hatta meminta sekretarisnya mengembalikan sisa uang itu ke pemerintah via Kedubes RI di Bangkok.
Bung Hatta sangat membenci koruptor. Hal ini pun ditunjukkan dalam wasiat kepada keluarganya, lima tahun sebelum Bung Hatta wafat. Dalam wasiat itu, Bung Hatta menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
"Apabila saya meninggal dunia, saya ingin dikuburkan di Jakarta, tempat diproklamasikan Indonesia merdeka. Saya tidak ingin dikubur di Makam Pahlawan (Kalibata). Saya ingin dikuburkan di tempat kuburan rakyat biasa yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya," tulis Bung Hatta dalam wasiatnya.
Integritas yang dimiliki Bung Hatta ini sesuai dengan pepatah Jerman yang ia pegang teguh, "Der Mensch ist,war es iszt" -sikap manusia sepadan dengan caranya mendapat makan. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









