Akurat

Moderasi Beragama Penyelamat Generasi Muda Menghadapi Polarisasi

Mukodah | 8 September 2023, 14:02 WIB
Moderasi Beragama Penyelamat Generasi Muda Menghadapi Polarisasi

 

AKURAT.CO Narasi dan argumentasi yang membawa pengaruh ideologi transnasional sering kali dihembuskan kelompok intoleran dan radikal di ruang publik.

Sebagai penanggulangannya, kelompok agamis yang moderat harus memberikan kontra-narasi yang menyasar semua kalangan, khususnya para generasi muda.

Co-founder Peace Generation, Irfan Amalee, menjelaskan bahwa partisipasi anak muda harus lebih sering frekuensinya. Algoritma yang bekerja di pencarian dalam internet akan selalu memprioritaskan sesuatu yang banyak dan sering diterbitkan.

"Jumlah konten kontra-narasi itu harus jauh lebih banyak. Ibarat air dalam suatu wadah, jika ia dimasukkan setitik zat pewarna maka untuk membersihkannya perlu air jernih yang lebih banyak sehingga air dalam wadah tersebut bisa lebih jernih," jelasnya melalui keterangan pers, Jumat (8/9/2023).

Irfan mengungkapkan, generasi muda Indonesia sering kali dihadapkan pada perdebatan yang tidak produktif di dunia maya. Contohnya benar atau salah, halal atau haram, Pancasila atau khilafah dan lain sebagainya. Seolah tidak pernah menyerah, kaum intoleran dan radikal terus menggambarkan Pancasila sebagai suatu kemunduran dan khilafah adalah solusinya.

"Sebenarnya narasi tentang khilafah itu adalah sebuah narasi internasional ya. Yang mereka (kaum radikal dan intoleran) address sebetulnya hampir semua sistem di dunia. Hanya saja kalau di Indonesia, Pancasilalah yang digoyangnya," ujarnya.

Menurut Irfan, pembenaran terhadap ideologi transnasional biasanya dilakukan dengan memunculkan narasi historis. Sebagai contoh, masa kekhalifahan Usmani sering kali diagung-agungkan sebagai contoh sistem khilafah yang bisa membawa rakyatnya pada kemakmuran. Nyatanya, jauh panggang dari api.

"Untuk melawan pengusung khilafah yang biasanya menonjolkan narasi historisnya kita bisa membawa contoh kekhalifahan pada masanya Khulafaur Rasyidin. Apakah Khulafaur Rasyidin yang dianggap sebagai kekhilafahan yang terbaik dan masih di bawah bimbingan Rasulullah dan para sahabat terdekat itu menggunakan sistem khilafah yang sama dengan yang digaungkan oleh kelompok intoleran? Tentu saja berbeda," paparnya.

CEO Mizan Application Publisher itu mengatakan jika menelisik narasi teologis maka kita bisa minta ditunjukkan tentang ayat-ayat yang mengarahkan manusia menerapkan sistem khilafah. Padahal di dalam Qur'an telah dijelaskan "wasyawirhu fil amri" yang berarti musyawarahlah dalam perkaramu. Ini jelas sesuai dengan sistem demokrasi yang dijalankan di Indonesia.

"Atau misalnya kita mau menggunakan narasi logis, dalam hal ini tentang nasionalisme, kita bisa merujuk pada ijtihad-ijtihad para ulama. Di Indonesia para ulama bisa diwakili dari Muhammadiyah dan NU. NU ulama-ulamanya sudah bersepakat dalam muktamar ke-34 yang menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang sesuai dengan konsep Islam," ujar Irfan.

"Muhammadiyah pun serupa, sudah menentukan juga dalam acara muktamarnya yang ke-47 bahwa Indonesia adalah darul ahdi wa syahadah yang berarti negara kesepakatan dan persaksian. Nah, jadi kita ittiba saja pada narasi logisnya para ulama. Jadi dari berbagai sudut, baik narasi secara historis, teologis maupun logis, khilafah itu tidak relevan dan Pancasila bukan sesuatu yang face to face terhadap khilafah, jelas berbeda levelnya," terangnya menambahkan.

Menurut Irfan, kelompok intoleran dan radikal biasanya mengangkat narasi dengan memanfaatkan search engine optimization sehingga website yang mereka kelola bisa bertengger di urutan paling atas.
Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir website-website yang cenderung konservatif dan radikal itu sudah relatif kalah oleh website-website yang kelompok moderat kelola. Hal ini terjadi karena kelompok moderat sudah mulai aktif dan terasa kehadirannya di dunia maya dibandingkan sebelumnya.

"Kalau dulu, yang moderat masih sebagai silent majority, kelompok dengan jumlah terbanyak tapi cenderung diam, namun sekarang mereka sudah mulai aktif. Kelompok radikal ini sebenarnya kan jumlahnya sedikit, cuma mereka sangat aktif. Mereka ini istilahnya noisy minority, kelompok yang sedikit tapi sangat aktif dan membuat bising," katanya.

Irfan menganalisis, masyarakat Indonesia sudah semakin matang dalam mengenali hoaks atau berita bohong yang disebar. Namun perlu diketahui bahwa hoaks atau disinformasi adalah suatu industri yang digerakkan dengan motif ekonomi.

"Mereka tentunya tidak ingin situasi Indonesia tenang-tenang saja karena dalam ketenangan mereka tidak bisa mendulang keuntungan. Pasti akan ada yang mencari, mendambakan, dan menunggu situasi yang tidak kondusif. Nanti tinggal dilihat saja antara kepentingan penyebaran hoaks dengan kematangan publik," ujarnya.

Lebih jauh, Irfan menambahkan bahwa prinsip moderasi beragama bisa diterapkan salah satunya dengan memiliki sifat tawasuth. Tawasuth bukan berarti tidak berpendirian tetapi bisa menjadi jembatan bagi semua pihak, baik kiri maupun kanan. Ketika ada informasi yang datang padanya, dia lakukan cross-check. Dengan begitu dia tetap berada di tengah dan tidak terbawa arus.

Hal ini menjadi penting terutama karena sebentar lagi bangsa Indonesia melaksanakan pemilihan umum yang rentan dengan polarisasi dan segregasi.

"Dengan memiliki sifat tawasuth kita bisa tetap berada di tengah bagaimanapun kerasnya polarisasi politik yang terjadi. Walaupun kita punya pilihan tetapi kita tidak hanyut dengan pilihan kita. Jadikan event politik itu sebagai sebuah kewajiban warga negara untuk memilih, bukan untuk berdiri di satu pihak dan kemudian terjadi polarisasi yang sangat hebat. Semangat moderasi beragama bisa terus hidup jika semua bersikap tawasuth dalam berpikir dan bertindak, khususnya dalam mengonsumsi informasi yang datang padanya," Irfan mengakhiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK