Akurat

Komisi X DPR: Bentrokan Guru dan Murid Bukan Cerminan Akhlak Pendidikan

Ahada Ramadhana | 17 Januari 2026, 11:35 WIB
Komisi X DPR: Bentrokan Guru dan Murid Bukan Cerminan Akhlak Pendidikan

AKURAT.CO Viral di media sosial insiden bentrokan fisik antara seorang guru dan sejumlah murid di lingkungan sekolah.

Menanggapi peristiwa tersebut, Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly, menilai kejadian itu sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai akhlak pendidikan dan menunjukkan minimnya empati.

“Terlepas dari apa pun motifnya, saya sangat menyesalkan insiden saling serang, saling pukul, hingga tonjok-menonjok antara guru dan murid. Ini bukan cerminan akhlak pendidikan yang baik. Tidak terlihat adanya empati, akhlak, maupun solidaritas yang seharusnya tumbuh di dunia pendidikan,” ujar Andi, dikutip Sabtu (17/1/2026).

Ia menegaskan, sekolah seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan membangun karakter, bukan arena pelampiasan emosi atau konflik yang berujung pada kekerasan.

“Ketika guru dan murid terlibat benturan fisik, yang patut dipertanyakan bukan hanya perilaku individu, tetapi juga kegagalan sistem pendidikan dalam membangun relasi yang sehat dan beradab,” katanya.

Menurut Andi, guru memiliki tanggung jawab moral sebagai teladan, sementara murid perlu dibekali sikap hormat, empati, serta kemampuan mengelola emosi.

“Ini alarm keras bagi kita semua. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga harus serius membangun karakter, kecerdasan emosional, dan etika, termasuk etika digital,” jelasnya.

Baca Juga: Pemerintah Rehabilitasi Puluhan Ribu Hektare Sawah Terdampak Bencana di Sumatera

Ia menambahkan, pendekatan represif semata tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan serupa.

“Yang dibutuhkan adalah pembenahan sistem, penguatan nilai, dan kesadaran kolektif bahwa pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia,” tegas Andi.

Andi juga menyoroti peran penggunaan gawai dan media sosial dalam insiden tersebut, terutama tindakan merekam dan menyebarluaskan kekerasan di lingkungan sekolah.

“Jika terjadi insiden seperti ini, seharusnya diselesaikan melalui musyawarah, mekanisme sekolah, dan melibatkan orang tua, bukan justru dipertontonkan ke ruang publik,” ujarnya.

Sebelumnya, sebuah video yang memperlihatkan seorang guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, dikeroyok oleh sejumlah murid viral di media sosial pada Selasa (13/1/2026).

Terkait kronologi kejadian, beredar dua versi berbeda. Berdasarkan keterangan para siswa, insiden dipicu oleh ucapan oknum guru yang dianggap merendahkan kondisi ekonomi murid.

Sementara versi sang guru menyebutkan, peristiwa bermula dari teguran kepada siswa yang dinilainya bersikap tidak sopan.

Akibat teguran tersebut, guru mendatangi ruang kelas untuk meminta penjelasan.

Namun situasi justru memanas hingga emosi memuncak dan guru tersebut secara refleks menampar salah satu murid, yang kemudian berujung pada kericuhan.

Baca Juga: Asap Dapur Lapangan TNI Jadi Tanda Harapan di Tengah Bencana Sumatera Barat 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.