Jakarta Menuju Kota Sinema Dunia: Pemprov dan Tempo Rumuskan Terobosan Besar

AKURAT.CO Pemerintah Provinsi Jakarta bersama Tempo Media Group memulai rangkaian Focus Group Discussion (FGD) “Jakarta Kota Sinema” sebagai upaya merumuskan indikator dan ukuran utama untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota sinema berstandar internasional.
Program ini juga menjadi langkah strategis agar Jakarta dapat masuk dalam jejaring kota kreatif dunia kategori Film di bawah UNESCO Creative Cities Network.
FGD berlangsung selama enam hari di AONE Hotel. Kegiatan ini melibatkan sembilan kelompok diskusi dengan peserta dari unsur pemerintah, sineas, komunitas, akademisi, dan pelaku usaha.
Direktur Utama Tempo Media Group, Arif Zulkifli, menjelaskan bahwa diskusi tidak hanya membahas kemudahan perizinan syuting, tetapi membangun konsep kota sinema yang komprehensif.
Ide ini menguat sejak Februari 2025 saat Tempo menggelar Festival Film Tempo dengan dukungan Pemprov Jakarta, sekitar dua pekan sebelum Pramono Anung dan Rano Karno resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta.
“Sejak pertama kali kami menyebutkan ide kota sinema, Bang Doel langsung menangkap urgensinya,” ujar Arif, Senin (8/12/2025).
Baca Juga: Profil Ayu Puspita, Sosok di Balik Kasus Viral Penipuan Wedding Organizer
Ia mencontohkan, proses syuting Si Doel Anak Sekolahan di Belanda jauh lebih mudah dan murah dibandingkan di Jakarta, menunjukkan adanya persoalan mendasar seperti perizinan dan keamanan.
Arif menekankan, pembangunan kota sinema membutuhkan ekosistem terintegrasi—meliputi pendidikan, ruang produksi dan apresiasi, pendanaan, teknologi, hingga industri pendukung.
Dari pihak pemerintah, Kadisparekraf Jakarta Andhika Permata, melalui Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Puji Hastuti, menyebut Pemprov telah memperkuat ekosistem perfilman.
Beberapa inisiatif yang tengah dirumuskan adalah pembentukan Jakarta Film Commission, platform Filming in Jakarta, serta mekanisme insentif fiskal bagi para sineas.
Meski begitu, Puji menilai masih banyak tantangan yang harus dijawab. Karena itu, FGD ini digelar untuk menghimpun data dan pandangan pakar maupun pelaku industri.
“Kami ingin mengetahui apakah Jakarta layak dikembangkan menjadi kota sinema, apa saja modal yang sudah dimiliki, dan apa yang masih perlu diperkuat,” ujarnya.
Pada hari pertama, FGD menghadirkan kritikus film Eric Sasono, penggagas Jakarta Cinema Club Christian Putra, dan Presiden Indonesian Cinematographers Society Agni Ariatama.
Agni menilai Jakarta memiliki modal kuat dengan keberadaan 141 rumah produksi—sekitar 80 persen dari total nasional.
Namun, ia menekankan perlunya kebijakan terintegrasi dan kerja sama internasional sesuai standar UNESCO–WIPO agar film menjadi bagian dari identitas budaya kota.
Sementara Eric menyoroti pentingnya dukungan finansial berupa insentif pajak dan hibah, serta penambahan ruang putar yang masih terbatas di Jakarta.
Baca Juga: Umrah Saat Bencana, Prabowo Perintahkan Mendagri Copot Bupati Aceh Selatan Mizwar MS
Ketiga pembicara sepakat bahwa dua hal perlu menjadi perhatian utama. Pertama, penegasan status kota sinema dalam jejaring UCCN, mengingat Jakarta sudah berstatus City of Literature.
Kedua, perlunya Jakarta Film Commissionuntuk menyelesaikan hambatan di lapangan, termasuk kerumitan izin dan gangguan saat syuting.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










