Akurat

Menguak Jejak Sejarah Jalan Margonda Raya Depok

Ratu Tiara | 15 Juli 2025, 18:52 WIB
Menguak Jejak Sejarah Jalan Margonda Raya Depok
 

AKURAT.CO  Setiap sudut kota menyimpan kisahnya sendiri, dan sejarah Jalan Margonda di Depok adalah salah satu cerita yang patut dikenang.

Bagi masyarakat Depok, Jalan Margonda Raya bukan hanya jalan protokol utama, melainkan simbol perjalanan panjang kota ini dari masa perjuangan hingga menjadi pusat pertumbuhan urban yang dinamis.

Jalan Margonda Raya membentang dari perbatasan Jakarta Selatan hingga ke wilayah Depok bagian selatan. Jalan ini kini menjadi arteri utama yang menghubungkan berbagai pusat aktivitas, mulai dari pusat perbelanjaan, kampus-kampus ternama, hingga area perkantoran. Namun di balik hiruk-pikuk modernitasnya, tersimpan sejarah Jalan Margonda yang sarat nilai perjuangan.
 

Siapa Margonda yang Namanya Diabadikan?

Untuk memahami sejarah Jalan Margonda, kita perlu menelusuri jejak perjuangan rakyat Depok pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Nama Margonda yang kini menjadi salah satu jalan utama di Kota Depok, ternyata diambil dari nama seorang tokoh pejuang lokal yang berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Margonda yang memiliki nama asli Margana adalah seorang pemuda pemberani yang tergabung dalam Laskar Rakyat. Dia dikenal sebagai pemimpin muda dengan semangat juang tinggi dalam melawan pasukan Sekutu yang ingin kembali menguasai Indonesia pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945.
 
Margonda gugur dalam pertempuran sengit yang terjadi di kawasan Kalibata. Pertempuran tersebut menjadi salah satu simbol perlawanan rakyat setempat terhadap penjajahan yang hendak kembali berkuasa. Atas jasa dan pengorbanannya, nama Margonda kemudian diabadikan sebagai nama jalan utama di Depok Jalan Margonda Raya sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat perjuangannya.
 
 

Evolusi Jalan Margonda: Dari Jalur Pertanian Menuju Pusat Kota

Sebelum menjadi jalan protokol yang ramai seperti sekarang, sejarah Jalan Margonda dulunya adalah jalur yang jauh dari keramaian. Dahulu, area ini sebagian besar merupakan lahan perkebunan dan permukiman sederhana.

Seiring waktu dan pertumbuhan penduduk, terutama setelah Depok ditetapkan sebagai kota mandiri, Jalan Margonda mengalami transformasi besar-besaran.

  • Era Kolonial dan Awal Kemerdekaan: Pada masa ini, jalan ini hanya berupa jalur desa untuk mengangkut hasil perkebunan atau menghubungkan permukiman kecil. Belum ada kepadatan seperti sekarang.
  • Perkembangan Pasca-Kemerdekaan: Setelah Indonesia merdeka dan khususnya setelah peristiwa heroik Margonda, nama jalan ini diabadikan. Seiring waktu, Depok mulai berkembang sebagai kota satelit Jakarta.
  • Pembangunan Pesat Era 1990-an hingga sekarang: Perkembangan infrastruktur yang cepat, munculnya mal modern seperti Mal Depok dan Margo City, serta kehadiran universitas ternama seperti Universitas Gunadarma dan Universitas Indonesia di sekitarnya, menjadikan Jalan Margonda sebagai pusat denyut nadi perekonomian dan pendidikan. Arus urbanisasi yang tinggi juga turut memadati kawasan ini.
  • Peran Vital Transportasi: Jalan ini juga jadi urat nadi transportasi umum yang penting, dilalui berbagai jenis kendaraan dan menjadi jalur utama bagi komuter yang bergerak dari dan menuju Jakarta.
Jadi, Jalan Margonda bukan hanya tentang sebuah ruas jalan, melainkan cerminan dari sebuah narasi yang lebih besar yakni, perjuangan, pertumbuhan, dan perkembangan sebuah kota. Dari nama seorang pahlawan yang gugur di medan perang hingga menjadi koridor ekonomi dan pendidikan yang dinamis, Jalan Margonda adalah saksi bisu perjalanan Depok.
 
Keberadaan jalan ini mengingatkan kita akan sejarah heroik yang melatarinya, sekaligus menjadi simbol kemajuan dan harapan bagi masa depan kota ini. Setiap kali Anda melintasinya, ingatlah akan kisah inspiratif di balik namanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R