Ibu-ibu Turun ke Jalan Tuntut BBM Bersih: Anak-Anak Butuh Udara Sehat, Bukan Asap Knalpot

AKURAT.CO Puluhan ibu-ibu turun ke jalan dalam kampanye "Gerakan Kembalikan Langit Biru Kita" yang digelar dari Dukuh Atas hingga Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (6/7/2025).
Aksi ini menyuarakan desakan kepada pemerintah untuk segera menghentikan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan kandungan sulfur tinggi yang terbukti memperparah polusi udara dan mengancam kesehatan anak-anak.
Kampanye ini diinisiasi oleh Bicara Udara bersama Aliansi Udara Bersih, yang terdiri dari Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), akademisi, serta komunitas pegiat lingkungan.
Mereka menilai, setelah keberhasilan menghapus timbal dari bensin dua dekade lalu, kini Indonesia menghadapi tantangan baru: tingginya emisi sulfur dari kendaraan bermotor.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kendaraan bermotor melonjak dari 4,4 juta unit pada 2006 menjadi lebih dari 148 juta unit pada 2022.
Lonjakan ini turut meningkatkan emisi sulfur dioksida (SO₂), gas beracun yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dapat memicu asma, bronkitis, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan, khususnya pada anak-anak.
“Sebagai ibu, saya tak rela anak-anak kita dipaksa menghirup udara kotor. Kami menuntut pemerintah segera meningkatkan standar kualitas BBM sesuai standar Euro 4,” tegas Cynthia Andarinie, ibu dan Duta Biru Voices, yang hadir memimpin barisan aksi.
Menurutnya, masyarakat tak bisa terus bergantung pada solusi individual seperti alat purifier atau inhaler. “Yang dibutuhkan adalah langkah sistemik: regulasi tegas dan BBM yang lebih bersih,” katanya.
Baca Juga: 20 Rekomendasi Film Indonesia Terbaru 2025: Bisa Ditonton Lewat HP, Bukan LK21 atau Rebahin!
Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif KPBB, menyebut Indonesia sudah jauh tertinggal dari negara-negara ASEAN dalam hal penerapan bahan bakar rendah emisi.
“Filipina, Thailand, dan Vietnam sudah menetapkan BBM dengan kadar sulfur di bawah 50 ppm. Di Indonesia, kadar sulfur masih bisa mencapai ribuan ppm. Ini adalah bentuk ketidakadilan lingkungan yang nyata,” ujar Ahmad.
Ia menilai, Indonesia seharusnya segera beralih dari BBM impor berkualitas buruk ke BBM yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
“Kita butuh keberanian politik untuk melakukan reformasi kebijakan energi, bukan sekadar wacana,” tambahnya.
Peserta aksi membawa poster-poster bertuliskan pesan-pesan kritis nan kreatif, seperti “Anak-anak sesak napas karena BBM beracun” dan “Asap knalpot hitam bikin kulit kusam”.
Aksi ini menarik perhatian warga yang melintas di kawasan pusat kota Jakarta pada akhir pekan.
Tak hanya sekadar aksi damai, gerakan ini juga menjadi momentum untuk membangun kesadaran publik bahwa langit biru bukan hanya romantisme masa lalu, melainkan hak dasar generasi mendatang.
Melalui kampanye ini, masyarakat didorong untuk aktif mengawal kebijakan bahan bakar bersih, termasuk percepatan implementasi standar emisi dan pengawasan distribusi BBM berkadar sulfur rendah.
Baca Juga: Comeback, Anthony Ginting dan Gregoria Mariska Dipastikan Tampil di Jepang dan China
“Langit biru harus kita rebut kembali bersama. Demi udara yang layak hirup, dan masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak kita,” pungkas Cynthia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










