Pengamat: Pemda Jabodetabek Harus Segera Benahi Tata Ruang untuk Atasi Banjir

AKURAT.CO Pengamat perkotaan, Nirwono Yoga, menyoroti, perlunya pembenahan tata ruang di wilayah Jabodetabek guna mengatasi banjir yang semakin parah.
Menurutnya, curah hujan ekstrem yang mencapai 190 mm per hari (data BMKG) membuktikan bahwa Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Tangerang Selatan perlu melakukan langkah serius dalam menata permukiman, terutama yang berada di bantaran sungai.
Nirwono menilai, upaya seperti pengerukan kali dan pembangunan tanggul saja tidak cukup untuk mengendalikan banjir.
Ia menegaskan, permukiman yang berada di bantaran kali sebaiknya direlokasi ke rumah susun sewa (Rusunawa) terdekat, sementara badan sungai harus dikeruk, diperlebar, serta dihijaukan.
Selain itu, optimalisasi setu, danau, embung, dan waduk yang sudah ada menjadi langkah penting dalam mendukung pengendalian air.
Jika diperlukan, pembangunan danau atau waduk baru juga bisa dilakukan untuk menampung luapan air sungai serta meningkatkan resapan air ke dalam tanah.
Baca Juga: Pemerintah Prioritaskan Penyelamatan dan Pemulihan Infrastruktur di Daerah Terdampak Banjir
"Keberadaan sungai harus didukung dengan sistem resapan yang baik agar debit air tidak berlebih dan menyebabkan banjir," ujarnya kepada Akurat.co, Selasa (4/3/2025).
Menurut Nirwono, kawasan permukiman juga perlu menyediakan fasilitas pengelolaan air yang lebih baik, seperti:
- Sumur resapan di setiap halaman rumah
- Taman lingkungan untuk meningkatkan daya serap air
- Saluran air berkapasitas besar yang dapat menampung air hujan secara optimal
Air hujan yang tertampung harus dialirkan ke setu, danau, embung, atau waduk (SDEW) terdekat agar dapat terserap ke dalam tanah.
Semakin luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan SDEW, semakin besar kemampuan tanah dalam menyerap air dan mengurangi genangan.
Nirwono juga menegaskan bahwa seluruh kota harus merehabilitasi saluran air yang sudah tidak mampu menampung curah hujan tinggi.
Saluran air harus diperbesar dan disesuaikan dengan kelas jalan, serta terhubung dengan SDEW terdekat agar luapan air bisa tertampung dengan baik.
Selain itu, pendataan jumlah warga yang tinggal di bantaran kali juga harus dilakukan untuk memastikan relokasi berjalan efektif.
Pemerintah daerah dapat mencari lokasi potensial untuk membangun Rusunawa mixed-use, seperti di area kantor kelurahan/kecamatan, puskesmas, atau sekolah negeri yang dekat dengan bantaran sungai.
"Modifikasi cuaca memang bisa mengurangi curah hujan ekstrem, tetapi tidak akan menyelesaikan masalah banjir secara keseluruhan," tegasnya.
Dengan langkah-langkah yang terintegrasi, Nirwono berharap Jabodetabek bisa lebih siap dalam menghadapi bencana banjir di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










