Akurat

Geger Ancaman Gempa Megathrust, Seberapa Siap Jakarta Menghadapinya?

Sulthony Hasanuddin | 15 Agustus 2024, 17:46 WIB
Geger Ancaman Gempa Megathrust, Seberapa Siap Jakarta Menghadapinya?

AKURAT.CO Dua megathrust terdeteksi mengapit wilayah DKI Jakarta, dan salah satunya berpotensi untuk pecah sewaktu-waktu, yang dapat memicu tsunami.

Peringatan dua megathrust disampaikan oleh Subardjo, mantan Ketua Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA), dalam acara Sarasehan Nasional IKAMEGA pada 2018 lalu.

"Berdasarkan segmentasi megathrust pada Peta Gempa Bumi Nasional 2017, kita mengetahui ada dua megathrust yang dekat dengan Jakarta. Ini bisa berdampak signifikan terhadap kerusakan bangunan atau infrastruktur di Jakarta," ujar Subardjo, dikutip Kamis (15/8/2024).

Baca Juga: Diputus Kontrak Sepihak, Distributor AUX Laporkan Perusahaan Asal Tiongkok ke KPPU

Dua megathrust yang dimaksud adalah Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Jawa Tengah bagian barat, yang masing-masing memiliki potensi gempa dengan magnitudo 8,7.

Sejumlah ilmuwan sudah memantau aktivitas dua megathrust ini selama hampir 20 tahun.

Bahkan, peneliti dari Jepang telah melakukan ekspedisi di wilayah tersebut, mulai dari Tanjung Priok hingga Teluk Benoa.

"Kami telah memasang jaringan seismograf bawah laut atau Ocean-Bottom Seismometer (OBS) di sekitar Selat Sunda hingga selatan Sukabumi untuk memantau aktivitas kedua megathrust ini," tambahnya.

Aktivitas Megathrust Jawa Barat-Jawa Tengah sudah diketahui sejak tahun 2000, melalui beberapa kejadian gempa, seperti gempa Pangandaran, Tasikmalaya, dan Lebak.

Baca Juga: Jokowi Sampaikan Nota Keuangan 2025 Besok, Ini Bocorannya

Namun, Subardjo menekankan bahwa yang paling mengkhawatirkan adalah Megathrust Selat Sunda, yang memiliki panjang sekitar 280 km dan lebar 200 km, dengan pergeseran (slip rate) 4 cm per tahun.

Megathrust Selat Sunda tercatat pernah pecah pada tahun 1699 dan 1780 dengan magnitudo 8,5.

"Jika terjadi lagi, megathrust ini bisa menghasilkan gempa dengan magnitudo 8,7 atau setara dengan 9.0 Magnitude Moment (MW), yang bisa menimbulkan tsunami seperti gempa Aceh pada Desember 2004," ujar Subardjo.

Namun, Subardjo menegaskan bahwa bukan tsunaminya yang menjadi kekhawatiran utama, melainkan getarannya.

Baca Juga: iPhone SE Terbaru Bakal Dilengkapi Fitur Apple Intelligence

Mengingat jarak antara Megathrust Selat Sunda dan Jakarta yang hanya sekitar 200-250 km, ditambah dengan kondisi tanah aluvial di Jakarta yang dapat memperbesar getaran, dampaknya bisa sangat signifikan.

Sri Widiyantoro, ahli seismologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), juga mengkhawatirkan dampak gempa akibat pecahnya Megathrust Jawa Tengah bagian barat terhadap Jakarta.

Baca Juga: Cara Mudah Membuat Twibbon 17 Agustus 2024 di Canva

Meskipun jaraknya sekitar 200-300 km dari Jakarta, Sri menjelaskan bahwa ini masih dianggap dekat, mengingat Tokyo yang berjarak 400 km dari pusat gempa Tohoku tahun 2011 pun mengalami goncangan kuat.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, juga menegaskan bahwa prediksi ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan akan pentingnya kesiapsiagaan.

Hingga saat ini, tidak ada teknologi yang bisa memprediksi kapan gempa besar akan terjadi, berapa kekuatannya, atau dampaknya.

"Kepastian hanya ada pada kemungkinan terjadinya gempa, tapi kapan dan seberapa besar kekuatannya, kita belum bisa memastikannya," kata Dwikorita.

Baca Juga: Ferry Maryadi Ungkap Ibunda Sudah Sakit Selama 20 Bulan

Oleh karena itu, ia mengimbau pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengambil langkah mitigasi, seperti mengaudit gedung-gedung tinggi di DKI Jakarta.

BMKG juga memperingatkan potensi gempa dari dua megathrust yang sudah lama tidak melepaskan energi besarnya, yakni Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.

Baca Juga: Cegah Kebakaran, Heru Budi Minta Warga Jakarta Jaga Instalasi Listrik di Rumah

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyatakan bahwa gempa besar di kedua segmen megathrust ini hanya tinggal menunggu waktu, mengingat sudah lebih dari dua abad sejak terakhir kali terjadi gempa besar di wilayah tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.