Rupiah Ditaksir Lanjutkan Pelemahan ke Rp17.750

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (16/9/2026).
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik serta sentimen dari pasar global.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.690 sampai Rp17.750," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (16/9/2026).
Baca Juga: Bunga The Fed Sudah Diantisipasi, Rupiah Jadi Penentu Pasar Saham Indonesia
Pada perdagangan Selasa (15/9/2026), rupiah ditutup melemah 25 poin ke level Rp17.694 per USD. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 40 poin dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.669 per USD.
Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi.
Perkembangan tersebut dinilai meningkatkan risiko terhadap pasokan minyak global. Posisi Houthi di sejumlah titik strategis di sepanjang Laut Merah juga berpotensi meningkatkan gangguan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab.
"Serangan ofensif Houthi ini membuka front baru dalam konflik Timur Tengah. Para analis memperkirakan perkembangan ini dapat mengganggu tambahan 4 persen hingga 5 persen dari pasokan global," kata Ibrahim.
Selain Laut Merah, pasar juga mencermati perkembangan Selat Hormuz. Pembicaraan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut ditunda setelah Oman menunda pertemuan yang sebelumnya dijadwalkan antara Iran dan negara-negara Teluk.
Iran juga menyatakan belum akan melakukan dialog dengan Amerika Serikat sebelum sejumlah persyaratan mereka dipenuhi. Ketidakpastian tersebut berpotensi membuat pasar tetap berhati-hati terhadap risiko pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, perhatian pasar global tertuju pada kebijakan The Fed. Data inflasi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang memperkuat ekspektasi terhadap perubahan suku bunga bank sentral AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









