Pertamina NRE Kembangkan Bioetanol Multi-Feedstock di Lampung

AKURAT.CO Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) meluncurkan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Fasilitas ini dikembangkan sebagai platform pengembangan dan pengujian bioetanol berskala pilot yang mencakup pengembangan bahan baku (feedstock), budidaya, pengujian teknologi, hingga validasi proses produksi bioetanol.
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis menyampaikan, Bioethanol Development Center ini mengedepankan pendekatan multi-feedstock dan multi-generation technology, dengan memanfaatkan beragam potensi bahan baku dan teknologi produksi bioetanol generasi pertama (1G) maupun generasi kedua (2G).
Baca Juga: Pertamina NRE Gandeng 3 Mitra, Kembangkan Bio-Metanol dari Biogas
Lebih lanjut, John Anis dalam pemaparannya menerangkan bahwa sorgum menjadi salah satu bahan baku yang menarik untuk dikembangkan karena memiliki potensi produktivitas dan siklus panen yang kompetitif.
“Yang menarik dari sorgum ini, selain produktivitasnya, siklusnya juga bisa tiga kali panen dalam setahun,” kata John dalam keterangannya, diktuip Rabu (16/9/2026).
John menjelaskan, Bioethanol Development Center di Lampung dikembangkan sebagai fasilitas pilot dengan kapasitas produksi bioetanol hingga 60 kiloliter per tahun.
Fasilitas ini akan digunakan untuk menguji berbagai kombinasi bahan baku dan teknologi, mulai dari pre-treatment, hidrolisis, fermentasi, distilasi, hingga dehidrasi, termasuk tahapan pre-treatment untuk pengolahan bahan baku 2G.
“Pertamina NRE sangat berkomitmen dalam mendukung program Presiden dan cita-cita besar untuk mencapai produksi 1 juta kiloliter bioetanol per tahun dengan sistem multi-generation,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, menyampaikan bahwa pengembangan bioetanol dapat membentuk ekosistem yang mempertemukan pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan.
“Lampung memiliki 430 ribu KL, dengan strategi utama reaktivasi, sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi generasi pertama (1G) dan generasi kedua (2G), pilot Bioethanol Development Center atau pusat pengembangan percontohan biomassa, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung serta konversi pabrik, sehingga dapat mendukung ketahanan energi,” tutur Todotua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







