Dikabarkan Bakal Bangun Pabrik Etanol dengan Toyota, Bos Pertamina Bilang Begin

AKURAT.CO PT Pertamina (Persero) buka suara soal rencana kerja sama Pertamina NRE (New & Renewable Energy) dengan Toyota untuk membangun pabrik bioetanol di Lampung.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa semua peluang kolaborasi terus dibahas dan didalami, termasuk penjajakan dengan perusahaan otomotif asal Jepang tersebut.
“Oh, mungkin itu berita terbaru ya? Kemungkinan semua penjajakan kan kita gali terus, kita dalami terus. Yang pasti semangat kolaborasi harus terus kita tingkatkan,” kata Simon di Kementerian ESDM, Senin (10/11/2025).
Baca Juga: RDMP Balikpapan Masuki Tahap Akhir, Pertamina Siapkan Pengoperasian RFCC
Menurut Simon, Toyota memiliki pengalaman dan teknologi yang relevan untuk pengembangan biofuel, termasuk kendaraan flex-fuel yang mampu menggunakan bahan bakar E100.
Dirinya menyebut teknologi tersebut sudah beberapa kali dipamerkan Toyota di berbagai ajang otomotif internasional.
“Toyota kan kita memang lihat di beberapa ajang pameran mobil ya, itu kan bahkan sudah sampai waktu itu E100 kan, pakai flex-fuel kendaraannya itu ya,” tambah Simon.
Lebih lanjut, Simon menegaskan bahwa setiap langkah yang diambil Pertamina akan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, regulasi, serta kajian teknis yang komprehensif.
Termasuk jika kelak kerja sama dengan Toyota berlanjut dalam bentuk joint venture untuk pengembangan bioetanol di Indonesia.
“Jadi tentunya kita melihat semua kesiapan infrastruktur, regulasi, dan tentunya semua keputusan yang kita ambil sudah melalui kajian yang panjang dan mendapat dukungan dari semua pihak,” tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, melakukan pertemuan dengan Masahiko Maeda, CEO Asia Region Toyota Motor Corporation.
Baca Juga: Pertamina Finalisasi Merger Tiga Subholding, Bidik Rampung Awal 2026
Pada kesempatan tersebut, Todotua menyebut PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyatakan minat berinvestasi di sektor bioethanol di Tanah Air.
Hal ini menjadi bagian dari strategi global Toyota untuk menjamin ketersediaan bahan bakar bagi kendaraan flex-fuel sekaligus mendukung kebijakan pemerintah mengurangi ketergantungan pada BBM impor.
“Kolaborasi ini dapat menjadi tonggak penting dalam pengembangan biofuel generasi berikutnya. Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam dan lahan pertanian yang luas, sementara Jepang memiliki keunggulan teknologi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Todotua menyampaikan sepulangnya dari Tokyo, Toyota maupun Pertamina akan langsung melakukan joint study
dan site visit ke lokasi di Lampung, targetnya pada awal tahun 2026 perusahaan patungan (JV) sudah terbentuk.
Dalam rangka mendukung kebijakan E10, saat ini tengah dikaji rencana pengembangan fasilitas dengan kapasitas produksi sebesar 60.000 kiloliter per tahun dan nilai investasi sekitar Rp2,5 triliun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









