Akurat

Rupiah Melemah di Tengah Dinamika Global dan Data Inflasi, Terjun 12 Poin ke Rp16.798

Hefriday | 2 Februari 2026, 20:02 WIB
Rupiah Melemah di Tengah Dinamika Global dan Data Inflasi, Terjun 12 Poin ke Rp16.798

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada perdagangan terkini, dipengaruhi kombinasi sentimen global dan dinamika data ekonomi domestik.

Rupiah tembus Rp16.798 per dolar AS, turun 12 poin atau 0,07%. Perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), tensi geopolitik Timur Tengah, hingga perbedaan sinyal kebijakan di Asia menjadi faktor eksternal yang membayangi pergerakan mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Di sisi dalam negeri, rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait neraca perdagangan yang masih surplus dan inflasi tahunan yang meningkat turut menjadi perhatian pelaku pasar. 
 
Meski surplus perdagangan mencerminkan fundamental eksternal yang relatif kuat, lonjakan inflasi tahunan di awal 2026 memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas daya beli dan arah kebijakan moneter ke depan.
 
Baca Juga: Ini Sebab Rupiah Menguat ke Rp16.780

Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, pasar saat ini berada dalam fase wait and see, dengan pelaku pasar mencermati sinyal kebijakan global sekaligus merespons data ekonomi domestik yang bergerak tidak searah secara tahunan dan bulanan.

Faktor Eksternal: Suku Bunga AS hingga Geopolitik Hormuz

Dari sisi global, sorotan utama pasar tertuju pada perkembangan kepemimpinan bank sentral AS. Presiden AS Donald Trump disebut telah menominasikan mantan Gubernur Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, sebagai kandidat pengganti Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang.

“Warsh sebagian besar dianggap sejalan dengan pandangan Trump yang mendorong penurunan suku bunga secara agresif,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (2/2/2026).
 
Namun demikian, Warsh juga dikenal kritis terhadap kebijakan pembelian aset The Fed, yang mengindikasikan arah kebijakan moneter jangka panjang bisa lebih ketat dari ekspektasi awal pasar.

Menurut Ibrahim, jika dikonfirmasi, Warsh kemungkinan akan lebih menekankan risiko pelemahan pasar tenaga kerja terhadap mandat The Fed dalam menjaga lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga. 
 
“Ini membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan, meski tidak bisa disebut sepenuhnya dovish,” katanya.

Sentimen global juga dipengaruhi oleh sinyal de-eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Trump yang menyebut Iran “serius berbicara” terkait negosiasi, ditambah laporan tidak adanya rencana latihan tembak langsung di Selat Hormuz, memberi sedikit ruang napas bagi pasar keuangan global.

Sementara itu di Asia, pernyataan Perdana Menteri Jepang Takaichi mengenai manfaat yen yang lebih lemah bagi eksportir turut menambah volatilitas regional.
 
Meski demikian, sikap tersebut kemudian dilunakkan seiring peringatan pemerintah Jepang terhadap pelemahan mata uang yang berlebihan, yang memicu spekulasi potensi intervensi pasar.

Faktor Internal: Surplus Perdagangan dan Inflasi Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 mencatat surplus kumulatif sebesar USD41,05 miliar. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan surplus tahun 2024 yang sebesar USD31,04 miliar.

Surplus tersebut ditopang oleh kinerja ekspor yang mencapai USD282,21 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor kumulatif sebesar USD241,86 miliar. Kontribusi utama berasal dari surplus nonmigas yang mencapai USD60,75 miliar, meski neraca migas masih mencatat defisit USD19,70 miliar.

Selain neraca perdagangan, perhatian pasar juga tertuju pada inflasi. BPS melaporkan inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026 mencapai 3,55%, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75.

Inflasi tahunan tersebut terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi tinggi hingga 11,93%, dengan andil 1,72%. Komoditas tarif listrik menjadi penyumbang terbesar, disusul oleh emas dan perhiasan.

Inflasi Tinggi YoY, Deflasi Bulanan: Apa Artinya?

Menariknya, inflasi tahunan yang relatif tinggi tersebut berbanding terbalik dengan inflasi bulanan. Pada Januari 2026, secara bulanan Indonesia justru mencatat deflasi sebesar 0,15%.

Ibrahim Assuaibi menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi efek basis rendah (low base effect). 
 
“Pada Januari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan tarif listrik yang menekan IHK, sehingga inflasi pada periode itu relatif rendah. Dampaknya terasa pada perhitungan inflasi tahunan Januari 2026,” ujarnya.

Rupiah Melemah, Pasar Masih Waspada

Seiring berbagai sentimen tersebut, rupiah pada perdagangan sore ini ditutup melemah 12 poin ke level Rp16.798 per USD, setelah sempat tertekan hingga 30 poin dari posisi sebelumnya di Rp16.786.

Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.790 hingga Rp16.830 per USD. 
 
“Pasar masih sensitif terhadap arah kebijakan The Fed dan rilis data lanjutan, baik dari global maupun domestik,” kata Ibrahim.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa