Siapa Pusat Ekonomi Dunia Saat Ini?

AKURAT.CO Ketika harga minyak melonjak, nilai tukar bergejolak, dan pasar saham dunia bergerak tak menentu, penyebabnya sering kali bukan sekadar angka inflasi atau kebijakan suku bunga.
Ada dinamika geopolitik yang bekerja pelan tapi menentukan arah ekonomi global.
Hubungan antarnegara, konflik regional, perebutan pengaruh, hingga perubahan aliansi politik kini menjadi faktor yang semakin nyata dalam menentukan siapa untung, siapa tertekan, dan siapa yang kehilangan momentum.
Dalam beberapa tahun terakhir, geopolitik tidak lagi berdiri terpisah dari ekonomi. Keduanya saling menembus batas.
Keputusan politik di satu kawasan bisa mengguncang rantai pasok global, memengaruhi harga pangan, energi, hingga arah investasi lintas negara.
Dunia ekonomi global bergerak bukan hanya berdasarkan logika pasar, tetapi juga kalkulasi kekuasaan.
Baca Juga: TB Hasanuddin Ingatkan Dampak Geopolitik dan Ekonomi Global Kasus Venezuela
Dari Konflik Politik ke Guncangan Pasar
Setiap ketegangan geopolitik hampir selalu memiliki efek ekonomi lanjutan. Konflik bersenjata, misalnya, jarang berhenti di medan perang. Ia merembet ke pelabuhan, jalur perdagangan, dan pasar energi.
Ketika kawasan penghasil minyak atau jalur distribusi utama berada dalam situasi tidak stabil, pasar global merespons cepat.
Harga komoditas naik, biaya produksi melonjak, dan inflasi menekan banyak negara sekaligus.
Di saat yang sama, ketidakpastian politik membuat investor cenderung menahan diri.
Modal menjadi lebih selektif, mengalir ke negara yang dianggap aman secara politik dan stabil secara kebijakan.
Negara yang dilanda konflik, sanksi, atau ketegangan diplomatik biasanya mengalami arus keluar modal, pelemahan mata uang, dan penurunan kepercayaan pasar.
Perang Dagang dan Fragmentasi Ekonomi
Selain konflik bersenjata, perang dagang menjadi wajah lain geopolitik ekonomi modern.
Ketika negara besar saling menaikkan tarif, membatasi ekspor teknologi, atau melindungi industri strategisnya, dampaknya terasa hingga negara berkembang yang tidak terlibat langsung.
Rantai pasok global yang dulu terintegrasi kini mulai terfragmentasi. Banyak perusahaan multinasional memindahkan basis produksi demi menghindari risiko politik. Fenomena ini mengubah peta industri global, menciptakan pemenang baru sekaligus wilayah yang tertinggal.
Ekonomi global bergerak menuju pola yang lebih regional, tidak lagi sepenuhnya terpusat pada satu sistem perdagangan bebas seperti dua dekade lalu.
Siapa Pusat Ekonomi Dunia Saat Ini?
Pertanyaan tentang pusat ekonomi dunia tidak lagi memiliki jawaban tunggal.
Amerika Serikat masih memegang peran sentral sebagai kekuatan ekonomi terbesar, dengan dolar AS tetap menjadi mata uang utama perdagangan dan cadangan dunia.
Kebijakan moneter dan fiskal AS masih mampu mengguncang pasar global dalam hitungan jam. Namun, posisi itu kini tidak lagi absolut.
Tiongkok muncul sebagai pusat manufaktur dan perdagangan global, dengan pengaruh besar terhadap harga komoditas, rantai pasok, dan pertumbuhan ekonomi negara berkembang.
Di saat yang sama, Uni Eropa tetap menjadi kekuatan ekonomi kolektif yang penting, meski sering diuji oleh perbedaan kepentingan internal dan dinamika geopolitik regional.
Selain tiga kekuatan utama itu, kawasan Indo-Pasifik, Timur Tengah, dan Asia Tenggara mulai memainkan peran yang semakin strategis. Negara-negara di wilayah ini menjadi titik temu kepentingan ekonomi dan geopolitik global, sekaligus arena persaingan pengaruh antara kekuatan besar dunia.
Baca Juga: Pidato Macron: Amerika Serikat Lepas dari Aturan Internasional
Energi, Pangan, dan Teknologi sebagai Medan Perebutan
Geopolitik ekonomi modern tidak hanya soal wilayah, tetapi juga soal sumber daya.
Energi menjadi contoh paling nyata. Ketegangan di kawasan penghasil minyak dan gas langsung memengaruhi harga energi dunia.
Negara-negara pengimpor merasakan tekanan inflasi, sementara negara produsen menghadapi risiko politik sekaligus peluang ekonomi. Hal serupa terjadi pada pangan.
Gangguan produksi atau distribusi akibat konflik bisa memicu lonjakan harga global dan krisis pangan di negara rentan.
Di sisi lain, teknologi kini menjadi medan baru geopolitik.
Pembatasan ekspor chip, kecerdasan buatan, dan teknologi strategis menunjukkan bahwa persaingan ekonomi global semakin bergeser ke penguasaan inovasi.
Dampak Langsung bagi Negara Berkembang
Bagi negara berkembang, geopolitik global sering kali menjadi faktor eksternal yang sulit dikendalikan. Ketika ekonomi dunia melambat akibat konflik atau ketegangan politik, permintaan ekspor menurun, nilai tukar tertekan, dan pembiayaan internasional menjadi lebih mahal. Namun, di balik risiko tersebut, ada peluang.
Negara yang mampu menjaga stabilitas politik, memperbaiki iklim investasi, dan menempatkan diri secara strategis dalam peta geopolitik global bisa menjadi tujuan relokasi industri dan investasi baru. Dalam konteks ini, geopolitik bukan hanya ancaman, tetapi juga ruang negosiasi dan strategi.
Baca Juga: Di Forum Ekonomi Dunia, Penampilan Macron yang Tampil Berkacamata Hitam Jadi Sorotan
Dunia Ekonomi yang Semakin Dipolitisasi
Yang membedakan kondisi saat ini dengan dekade sebelumnya adalah tingkat keterikatan antara politik dan ekonomi yang semakin dalam.
Keputusan ekonomi tidak lagi sepenuhnya netral. Ia sering dibingkai oleh kepentingan nasional, keamanan strategis, dan posisi geopolitik.
Akibatnya, ekonomi global menjadi lebih rentan terhadap kejutan politik.
Pasar bergerak cepat, sentimen berubah dalam hitungan jam, dan stabilitas jangka panjang menjadi semakin mahal untuk dipertahankan.
Menavigasi Ekonomi Global di Tengah Ketidakpastian
Geopolitik telah menjadi variabel utama dalam membaca arah ekonomi global.
Dari konflik regional hingga persaingan kekuatan besar, semua berkontribusi membentuk arus perdagangan, investasi, dan pertumbuhan dunia.
Tidak ada negara yang benar-benar kebal dari dampaknya.
Di tengah situasi ini, pemahaman terhadap geopolitik menjadi kebutuhan, bukan sekadar wacana akademik.
Dunia ekonomi global kini berjalan di atas peta kekuasaan yang terus berubah.
Siapa yang mampu membaca arah angin politik, dialah yang memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tumbuh di tengah ketidakpastian global.
Mutiara MY (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








