Akurat

China Batasi Ekspor Rare Earth, Jepang Hitung Risiko ke Industri Pertahanan

Andi Syafriadi | 14 Januari 2026, 09:30 WIB
China Batasi Ekspor Rare Earth, Jepang Hitung Risiko ke Industri Pertahanan

AKURAT.CO Pemerintah Jepang tengah mengkaji dampak pembatasan ekspor barang berkemampuan ganda (dual-use) yang diberlakukan China terhadap ketahanan industri pertahanan nasional.

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi menegaskan, Tokyo tidak menutup kemungkinan mengambil langkah balasan setelah evaluasi menyeluruh dilakukan.

Pembatasan yang diumumkan Beijing mencakup lebih dari 800 jenis barang, termasuk logam tanah jarang (rare earths), material krusial bagi pengembangan teknologi pertahanan modern.

Namun Koizumi menyebut, pemerintah Jepang masih memerlukan waktu untuk menilai cakupan dan implikasi kebijakan tersebut.

Baca Juga: AS Kumpulkan G-7 Bahas Rare Earth, China Kembali Jadi Sorotan

“Masih banyak aspek yang belum jelas. Setelah analisis mendalam, kami akan oleh karena itu kami sedang mempertimbangkan respons yang diperlukan,” ujar Koizumi dikutip dari laman reuters.

Tentunya langkah China tersebut memicu kekhawatiran global terkait potensi gangguan rantai pasok mineral kritis. Rare earth memiliki peran vital dalam produksi kendaraan listrik, perangkat elektronik, hingga sistem persenjataan presisi.

Sebab dominasi China dalam sektor ini dinilai memberi Beijing leverage strategis dalam hubungan dagang dan geopolitik.

Baca Juga: Khittah Logam Tanah Jarang dan Transformasi Teknokrat Santri

Isu kerentanan rantai pasok mineral strategis juga menjadi agenda utama pertemuan Menteri Keuangan G-7 di Washington. Para pejabat sepakat perlunya diversifikasi sumber pasokan guna mengurangi ketergantungan pada satu negara.

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Jepang menilai stabilitas rantai pasok sebagai bagian dari keamanan nasional.

Pemerintah Tokyo menegaskan akan terus berkoordinasi dengan negara mitra untuk menjaga keberlanjutan industri strategis di tengah dinamika geopolitik Asia Timur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.