Guru Besar UIN Jakarta: Panen Raya Karawang Cermin Keberhasilan Program Ketahanan Pangan Presiden Prabowo

AKURAT.CO Pelaksanaan Panen Raya Padi di Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dinilai menjadi bukti konkret keberhasilan kebijakan ketahanan pangan nasional yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kegiatan panen raya tersebut sekaligus menjadi momen pengumuman capaian swasembada beras nasional. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan sektor pangan strategis tidak hanya berhenti pada perencanaan, tetapi telah terealisasi melalui peningkatan produksi di tingkat petani.
Guru Besar Ekonomi Pertanian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menilai panen raya di Karawang memiliki makna substansial karena digelar di salah satu sentra produksi padi nasional.
“Karawang merupakan salah satu lumbung padi strategis nasional. Ketika panen raya di daerah ini dijadikan momentum pengumuman swasembada beras, itu mencerminkan bahwa kebijakan Presiden Prabowo berbasis pada produksi nyata di lapangan,” ujar Prof. Achmad.
Dia menegaskan bahwa panen raya tersebut bukan sekadar kegiatan simbolik, melainkan refleksi capaian produksi riil yang dihasilkan melalui kebijakan pertanian yang terarah dan berkelanjutan.
Menurut Prof. Achmad, keberhasilan ini didukung oleh tren produksi padi dan beras nasional yang terus menunjukkan peningkatan sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Data dan proyeksi resmi Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan kinerja positif sektor pertanian pangan.
BPS mencatat, pada Mei 2025 luas panen padi nasional mencapai sekitar 0,98 juta hektare dengan produksi sekitar 4,98 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 2,87 juta ton beras.
Sementara pada Juni 2025, luas panen tercatat sekitar 0,79 juta hektare dengan produksi 3,96 juta ton GKG atau setara 2,28 juta ton beras.
Tren peningkatan tersebut telah terlihat sejak awal tahun. Pada Januari 2025, luas panen padi nasional tercatat sekitar 0,42 juta hektare dengan produksi mencapai 2,16 juta ton GKG atau setara 1,24 juta ton beras, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, BPS memperkirakan produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai sekitar 34,71 juta ton. Angka ini dinilai menjadi fondasi kuat optimisme pemerintah dalam menyampaikan capaian swasembada beras.
Baca Juga: Pemerintah Benahi Sistem Gudang Bulog Jelang Panen Raya
Memasuki awal 2026, proyeksi BPS juga menunjukkan tren positif berlanjut.
Potensi produksi padi pada periode Desember 2025 hingga Februari 2026 diperkirakan mencapai sekitar 10,81 juta ton GKG, seiring peningkatan luas panen dan produktivitas pada musim tanam 2025–2026.
“Walaupun data produksi tahunan 2026 belum dirilis secara final, indikator awal menunjukkan produksi berada pada jalur yang sangat kuat dan berkelanjutan,” jelas Prof. Achmad.
Dia menambahkan, capaian tersebut merupakan hasil dari kebijakan terintegrasi pemerintah yang menyentuh seluruh rantai sektor pertanian, mulai dari hulu hingga hilir.
“Kebijakan Presiden Prabowo yang menempatkan pangan, khususnya beras, sebagai sektor strategis negara sudah tepat. Ketika pangan kuat, stabilitas ekonomi dan sosial nasional ikut terjaga,” tegas Prof. Achmad.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa data produksi secara rinci per wilayah, termasuk tingkat kabupaten, akan diumumkan secara resmi oleh BPS daerah setelah seluruh siklus panen rampung.
Namun, Prof. Achmad menilai panen raya di Karawang tetap layak diapresiasi sebagai simbol kebangkitan pertanian nasional sekaligus fondasi menuju kedaulatan pangan jangka panjang.
“Panen raya ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan petaninya sendiri. Ini adalah modal penting untuk menjaga swasembada beras secara berkelanjutan ke depan,” pungkas Prof. Achmad.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









