AKURAT.CO Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara memaparkan kinerja penerimaan pajak hingga Oktober yang menunjukkan dinamika berbeda antara realisasi bruto dan neto.
Dirinya menekankan pentingnya memahami perbedaan keduanya, terutama karena komponen restitusi berpengaruh besar terhadap capaian neto.
Menurut Suahasil, penerimaan pajak bruto telah mencapai Rp1.799,5 triliun, melampaui capaian periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1.767,13 triliun.
“Secara bruto kita tumbuh dan sudah melewati angka tahun lalu,” ujarnya dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Gedung Kemenkeu Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Baca Juga: Tutup Celah Penghindaran Pajak, DJP Perketat Aturan PPh Final 0,5 Persen
Kenaikan terjadi pada beberapa pos pajak utama. Pajak Penghasilan (PPh) Badan mencatat realisasi Rp331,39 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. PPh Orang Pribadi dan PPh 21 juga tumbuh 12,6% secara tahunan.
Meski demikian, untuk penerimaan neto, angkanya justru berada di bawah realisasi tahun lalu. Hingga Oktober, realisasi neto terkumpul Rp1.459,03 triliun, atau lebih rendah dari capaian tahun lalu sebesar Rp1.517,54 triliun.
“Realisasi neto kita tertekan oleh restitusi yang meningkat,” jelas Suahasil.
Dirinya menerangkan bahwa beberapa jenis pajak yang secara bruto menunjukkan pertumbuhan, secara neto masih mencatat angka negatif.
PPh Badan, PPh Orang Pribadi, PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 berada di bawah level tahun lalu setelah dikurangi restitusi.
Di sisi lain, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPN Barang Mewah (PPNBM) justru menunjukkan kinerja positif dan menjadi penopang pertumbuhan bruto.
Namun kenaikan restitusi di sektor tersebut membuat kontribusi ke neto tidak setinggi yang tercatat di laporan bruto.
Suahasil menekankan bahwa pertumbuhan year-on-year tetap positif, meski tipis. Untuk Oktober, pertumbuhan penerimaan bruto tercatat 0,8% dan neto 0,7%. “Pertumbuhan ada, tetapi sangat moderat,” tegasnya.
Kementerian Keuangan memastikan akan terus memantau pola restitusi yang menjadi salah satu faktor penekan penerimaan neto. Evaluasi terus dilakukan terutama pada sektor-sektor yang memiliki komposisi restitusi tinggi.
Meskipun masih terdapat tantangan, pemerintah yakin tren penerimaan pajak tetap terjaga hingga penutupan tahun.
Optimisme itu didukung oleh pergerakan ekonomi domestik serta stabilnya aktivitas produksi dan konsumsi.
Suahasil menambahkan bahwa transparansi data ini penting agar publik memahami perbedaan antara angka bruto dan neto serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. “Data harus terbuka agar analisisnya komprehensif,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan










