Akurat

Studi Celios: Beasiswa Pendidikan Lebih Bermanfaat daripada Program MBG

Hefriday | 7 Oktober 2025, 19:13 WIB
Studi Celios: Beasiswa Pendidikan Lebih Bermanfaat daripada Program MBG

AKURAT.CO Hasil survei terbaru dari Center of Economic and Law Studies (Celios) menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat menilai bantuan beasiswa lebih bermanfaat dibandingkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah.

Temuan ini menambah sorotan terhadap efektivitas program MBG, terutama dari sisi alokasi anggaran yang dinilai berpotensi menekan dana pendidikan, termasuk beasiswa bagi mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi.
 
Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, menjelaskan bahwa kebijakan MBG memiliki risiko “trade-off” dengan pos anggaran pendidikan. Menurutnya, sebagian dana program tersebut diduga bersumber dari anggaran pendidikan yang seharusnya digunakan untuk menunjang bantuan akademik.
 
"Beberapa kampus sudah mengalami pengurangan alokasi biaya siswa untuk mahasiswa, bahkan mencapai 50 persen. Ketika program makan bergizi gratis tidak tepat sasaran, sektor-sektor lain, terutama pendidikan, jadi korban,” kata Media dalam keterangannya, Selasa (7/10/2025).
 
 
Celios menilai, masyarakat sebenarnya lebih menginginkan bantuan yang bersifat langsung dan fleksibel. Berdasarkan hasil survei lembaga itu, dari lima jenis bantuan sosial yang ditawarkan, yakni cash transfer, beasiswa pendidikan, bantuan kebutuhan pendidikan, bantuan hiburan anak, dan MBG, program MBG menempati posisi terakhir dalam preferensi publik.
 
“Kalau orang tua diberi pilihan, mereka lebih memilih bantuan tunai dan beasiswa dibandingkan makan bergizi gratis,” ujar Media.
 
Lebih lanjut, Celios menghitung bahwa jika anggaran MBG dialihkan menjadi bantuan tunai, masyarakat miskin dapat memperoleh sekitar Rp50.000 per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan manfaat program MBG yang nilainya hanya sekitar Rp10.000 per porsi.
 
"Kalau program ini diganti dengan cash transfer, penerima bisa memperoleh manfaat lima kali lipat lebih besar,” jelasnya.
 
Celios berencana merilis laporan evaluasi lengkap mengenai efisiensi dan dampak MBG terhadap sektor sosial dan pendidikan dalam beberapa minggu mendatang. Lembaga ini sebelumnya telah mengkritik potensi pemborosan anggaran serta lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan.
 
Sebagai bagian dari upaya pengawasan publik, Celios bersama Unitrend, Transparency International Indonesia, Lapor Sehat, LBH Jakarta, dan Bareng Warga meluncurkan MBG Watch, sebuah laman pelaporan independen yang memungkinkan masyarakat mengirimkan aduan terkait pelaksanaan program MBG di daerah masing-masing.
 
Program MBG sendiri telah menuai kontroversi sejak diluncurkan. Selain persoalan efisiensi anggaran, sejumlah insiden keracunan massal yang diduga terkait dengan distribusi makanan MBG turut menambah kekhawatiran publik terhadap keamanan program tersebut.
 
Data terbaru dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat kasus keracunan MBG di dua provinsi baru, yakni Sumatera Barat dengan 122 anak terdampak dan Kalimantan Tengah sebanyak 27 anak. 
 
Adapun lima provinsi dengan jumlah korban tertinggi pada pekan lalu meliputi Jawa Timur (620 anak), Jawa Barat (555 anak), Jawa Tengah (241 anak), Sumatera Barat (122 anak), dan Nusa Tenggara Timur (100 anak).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa