Akurat

Rupiah Menguat 3 Hari Beruntun, Naik 30 Poin ke Rp16.634,5

Yosi Winosa | 1 Oktober 2025, 17:06 WIB
Rupiah Menguat 3 Hari Beruntun, Naik 30 Poin ke Rp16.634,5

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat lagi 30 poin (0,18%) ke level Rp16.634,5 pada perdagangan Rabu (1/10/2025) usai ditopang sejumlah sentimen. Penguatan ini merupakan ketiga kalinya secara beruntun.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan dari sisi eksternal, pemerintahan federal Amerika Serikat (AS) yang dipimpin Presiden Donald Trump resmi shutdown, Selasa tengah malam atau Rabu pukul 00:00 dini hari, waktu setempat.

"Pemerintahan akan 'berhenti' setelah Kongres gagal meloloskan RUU untuk mencegah penutupan yang deadline Selasa tengah malam," ujar Ibrahim.

Partai pemerintah, Republik, dan oposisi, Demokrat, menolak untuk mengalah dari posisi mereka yang berseberangan terkait kesepakatan pendanaan untuk menghindari penutupan di Senat AS.

Baca Juga: Rupiah Nanjak Lagi 15 Poin ke Rp16.664,5

Republik mencoba mengesahkan RUU dana sementara yang telah disahkan di DPR AS tetapi tidak berhasil mendapatkan suara dari Demokrat, yang dibutuhkan untuk dikirimkan ke meja Trump.

Shutdown kali ini akan menjadi yang pertama sejak 2018. Para pekerja pemerintah yang esensial akan tetap menjalankan peran mereka seperti biasa. Tetapi bagi mereka yang dianggap tidak esensial, para pekerja itu akan dirumahkan tanpa dibayar.

Penutupan pemerintah AS diperkirakan akan menunda rilis data pasar tenaga kerja yang sangat dinantikan minggu ini. Penutupan pemerintah yang berkepanjangan juga diperkirakan akan mengganggu rilis data AS mendatang.

Data penggajian non-pertanian untuk bulan September dijadwalkan dirilis pada hari Jumat, tetapi kini mungkin tertunda karena gangguan di lembaga-lembaga federal. Data tersebut diperkirakan akan memberikan isyarat yang lebih definitif mengenai pasar tenaga kerja yang mendinginnya pasar merupakan motivator utama penurunan suku bunga Federal Reserve pada bulan September.

Sementara itu, keraguan atas penurunan suku bunga lebih lanjut juga merayap ke pasar minggu ini, menyusul serangkaian komentar hawkish dari para pejabat Fed.

Presiden Fed Dallas Lorie Logan menandai peningkatan kewaspadaan atas pemotongan suku bunga di masa mendatang, dan menyatakan bahwa pasar tenaga kerja perlu memburuk lebih lanjut agar bank sentral mempertimbangkan lebih banyak pemotongan suku bunga.

Di sisi lain, dari internal, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai USD5,49 miliar pada Agustus 2025. Surplus ini didapat dari ekspor sebesar USD24,96 miliar dan impor USD19,43 miliar. Posisi ekspor masih lebih tinggi dibandingkan impor pada Agustus 2025. Ini adalah surplus 64 bulan beruntun sejak tahun 2020.

Selain itu, tingkat inflasi Indonesia September 2025 sebesar 0,21% secara bulanan (mtm) dan sebesar 2,65% YoY. terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 185,1 agustus 2025 menjadi 187,4 pada September 2025. Sebelumnya, BPS mencatat deflasi terjadi bulanan pada Agustus 2025 0,08% mtm dari Juli 2025.

Kemudian, aktivitas manufaktur Indonesia kembali melambat pada September 2025, kontraksi keempat kalinya. Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia versi S&P Global tercatat di level 50,4, turun dari 51,5 pada Agustus. Meski melemah, posisi ini masih sedikit berada di fase ekspansi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa