Rupiah Menguat 58 Poin ke Rp16.680

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 58 poin (0,35%) ke level Rp16.680 pada perdagangan Senin (29/9/2025) usai ditopang sejumlah sentimen.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan dari sisi eksternal, pasar bersiap menghadapi potensi penutupan pemerintah AS minggu ini di tengah upaya bipartisan yang biasa-biasa saja untuk meloloskan RUU pendanaan. Pendanaan untuk operasi federal AS akan berakhir pada tengah malam tanggal 30 September, karena Kongres belum memiliki dana pengganti atau perpanjangan.
Negosiasi bipartisan mengenai RUU pendanaan masih berlangsung. Partai Republik terlihat mendorong RUU pendanaan sementara hingga November, sementara Partai Demokrat menuntut Kongres untuk membatalkan pemotongan anggaran layanan kesehatan dan Medicaid baru-baru ini sebelum RUU pendanaan lainnya dapat disetujui.
Para pemimpin Kongres dari kedua partai dijadwalkan bertemu Presiden Donald Trump pada hari Senin untuk pembicaraan mediasi. "Penutupan pemerintah dapat menunda rilis data penggajian non-pertanian utama yang akan dirilis akhir pekan ini, dan juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi jika dibiarkan tidak terselesaikan dalam jangka waktu yang lama," ujar Ibrahim.
Baca Juga: Modal Asing Keluar Rp2,71 Triliun, Tekanan ke Rupiah Kian Meningkat
Ketegangan geopolitik juga kembali memanas setelah Rusia menggempur Kyiv dan wilayah lain di Ukraina pada Minggu pagi dalam salah satu serangan terdahsyat di ibu kota sejak perang skala penuh dimulai.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memberlakukan kembali embargo senjata dan sanksi lainnya terhadap Iran atas program nuklirnya, menyusul proses yang dipicu oleh kekuatan-kekuatan Eropa yang telah diperingatkan oleh Teheran akan ditanggapi dengan respons keras.
Bloomberg melaporkan bahwa para diplomat Eropa telah memperingatkan Moskow bahwa NATO siap menembak jatuh pesawat Rusia jika pelanggaran wilayah udara terus berlanjut.
Peringatan ini muncul seiring meningkatnya serangan pesawat nirawak dan jet lintas batas dengan anggota NATO, termasuk Turki, yang meningkatkan pengawasan udara dan para pemimpin pertahanan Eropa mulai membahas "tembok nirawak" terkoordinasi di sepanjang sisi timur aliansi.
Dari sisi internal, konsistensi sinyal kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah penguatan dolar AS dan gejolak pasar global dinilai penting. Instrumen Bank Indonesia (BI) dan pemerintah sudah memadai, tetapi koordinasi dan komunikasi perlu diperkuat agar ekspektasi pasar terkendali.
BI sudah penggunaan seluruh instrumen stabilisasi nilai tukar, mulai intervensi di pasar spot, Non Deliverable Forward (NDF) onshore atau offshore, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN), namun mata uang rupiah mendekati Rp16.800 per USD, melemah lebih dari 3% secara year-to-date.
Di sisi bantalan eksternal, cadangan devisa Agustus tercatat USD150,7 miliar, turun dari Juli karena pembayaran utang pemerintah dan langkah stabilisasi, namun masih jauh di atas standar kecukupan internasional. Dari sisi fiskal, defisit APBN Januari hingga Agustus mencapai 1,35% PDB atau Rp321,6 triliun dengan penerimaan turun 7,8% (yoy) dan belanja naik 1,5% (yoy).
Pada ranah perbankan, 4 bank BUMN mengumumkan bunga deposito USD 4% efektif 5 November, meski Menteri Keuangan menyatakan tidak ada instruksi pemerintah dan menyarankan evaluasi kebijakan tersebut.
Sejalan dengan hal tersebut, BI menurunkan BI-Rate 25 bps ke 4,75% di bulan September sebagai sinyal pelonggaran terukur dengan fokus stabilitas nilai tukar. Langkah ini menunjukkan BI tetap berhati-hati di tengah tekanan global, sembari menjaga ruang pertumbuhan domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










