Belanja Fiskal China Melemah, Risiko Pertumbuhan Ekonomi Kian Membesar

AKURAT.CO Belanja pemerintah China menunjukkan perlambatan signifikan dalam dua bulan terakhir. Data terbaru dari Kementerian Keuangan China mengungkapkan bahwa pengeluaran pada Agustus hanya tumbuh 6% secara tahunan, menjadi CNY2,7 triliun atau sekitar USD380 miliar.
Angka ini merupakan laju pertumbuhan terendah sejak Mei, sekaligus mempertegas sinyal melemahnya dorongan fiskal terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia.
Di sisi lain, pendapatan pemerintah hanya meningkat 0,3% pada periode yang sama, mencapai CNY1,6 triliun. Kondisi tersebut menyebabkan defisit anggaran melebar menjadi CNY6,7 triliun pada Januari hingga Agustus.
Situasi fiskal tersebut pada akhirnya memunculkan kekhawatiran bahwa ruang bagi Beijing untuk menggelontorkan stimulus semakin sempit.
Baca Juga: Hadiri CAEXPO 2025 di China, RI Pamerkan 3 Paviliun
Mengutip dari laman reuters, ekonom Goldman Sachs, David menilai perlambatan belanja fiskal dan menurunnya penerbitan obligasi pemerintah merupakan bukti bahwa pembuat kebijakan tidak terburu-buru meningkatkan stimulus.
Sebab menurut catatan mereka, investasi infrastruktur yang selama ini menjadi andalan untuk menopang pertumbuhan bahkan mengalami penurunan tajam pada Juli dan Agustus.
Padahal, pada awal tahun, Beijing sempat meningkatkan stimulus fiskal untuk meredam tekanan eksternal, termasuk kebijakan tarif yang digencarkan pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat.
Namun, situasi kini berbalik. Pemerintah tampak lebih berhati-hati, terutama karena risiko utang yang terus membengkak.
Sepanjang Januari–Agustus, total pengeluaran pemerintah mencapai CNY24,2 triliun atau naik 8,9% dari tahun sebelumnya. Meski terlihat besar, angka ini tidak cukup untuk menutupi pelemahan di sisi penerimaan. Pertumbuhan ekonomi yang lesu membatasi penerimaan pajak, sementara penjualan tanah sumber utama pendapatan daerah kontraksi hampir 5%.
Baca Juga: IHK Negatif, Permintaan Domestik Jadi Batu Sandungan Pemulihan Ekonomi China
Krisis sektor properti semakin memperburuk situasi. Penerimaan dari penjualan tanah hanya CNY1,9 triliun pada periode Januari–Agustus, turun dari tahun sebelumnya. Ini membuat pemerintah daerah, yang bergantung pada sektor properti untuk membiayai program pembangunan, semakin kesulitan.
Para analis menilai, pilihan kebijakan Beijing kini serba terbatas. Di satu sisi, dukungan fiskal tambahan dibutuhkan untuk menjaga momentum pertumbuhan. Di sisi lain, dorongan stimulus agresif berisiko menambah beban utang yang sudah besar.
Oleh karena itu, Goldman Sachs memproyeksikan, alih-alih meluncurkan stimulus masif, pemerintah China kemungkinan akan memilih langkah-langkah pelonggaran yang lebih terarah dan bertahap. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan menjaga pertumbuhan dan risiko stabilitas fiskal jangka panjang.
Situasi fiskal China kini menjadi salah satu barometer utama kondisi ekonomi global. Perlambatan belanja pemerintah tidak hanya berdampak pada domestik, tetapi juga menimbulkan efek rambatan bagi mitra dagang utama, termasuk negara-negara di Asia. Dengan ekonomi dunia yang masih rentan, langkah Beijing dalam mengelola belanja fiskalnya akan terus menjadi sorotan internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










