Akurat

Deflasi China Mulai Mereda, Pasar Komoditas Dunia Masih Waspada

Demi Ermansyah | 11 September 2025, 13:50 WIB
Deflasi China Mulai Mereda, Pasar Komoditas Dunia Masih Waspada

AKURAT.CO Deflasi di tingkat produsen China mulai menunjukkan tanda perbaikan pada Agustus 2025, setelah enam bulan berturut-turut tertekan.

Menurut Biro Statistik Nasional China dikutip dari laman Bloomberg melaporkan, indeks harga produsen turun 2,9% secara tahunan, lebih baik dibanding penurunan 3,6% pada Juli. Namun, harga konsumen justru kembali anjlok 0,4 persen, terutama akibat turunnya harga pangan.

Meski terlihat sebagai sinyal awal perbaikan, pasar global masih berhati-hati. Komoditas logam ferrous seperti besi dan baja mencatat kenaikan harga bulanan lebih dari 2%.

Baca Juga: Peneliti China Kembangkan Baterai Lithium yang Mampu Perpanjang Jarak Tempuh Kendaraan Listrik hingga 2 Kali Lipat

Tambang batu bara dan tembaga juga menunjukkan pemulihan. Namun, kepastian bahwa tren ini berkelanjutan masih diragukan.

“Kenaikan ini lebih dipicu ekspektasi pasar daripada kebijakan nyata,” ucap ekonom Bloomberg Economics, Eric Zhu.

Bagi Indonesia, perubahan harga komoditas di China akan berdampak langsung pada kinerja ekspor. China merupakan mitra dagang terbesar, terutama untuk batu bara, baja, dan minyak sawit.

Jika harga bahan mentah di Negeri Tirai Bambu kembali stabil, produsen Indonesia berpeluang meraih keuntungan. Namun, sebaliknya, bila deflasi berlanjut, daya beli industri China bisa kembali melemah.

Baca Juga: Google Sebut Operasi Siber Berafiliasi dengan China Sasar Diplomat Asia Tenggara

Selain komoditas, sektor keuangan global juga mencermati perkembangan ini. Obligasi pemerintah China tenor panjang tetap stabil di kisaran 2,2%, menandakan pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan Beijing.

Yuan pun tidak banyak bergerak terhadap dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya yakin deflasi bisa segera berakhir.

Ke depan, arah harga global akan bergantung pada konsistensi pemerintah China dalam menekan kelebihan kapasitas produksi.

Tanpa reformasi struktural, rebound harga produsen hanya akan menjadi jeda sementara di tengah tekanan permintaan domestik yang rapuh.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.