Ekonom: Reshuffle Harus Perkuat Disiplin dan Tata Kelola Fiskal

AKURAT.CO Perombakan kabinet atau reshuffle dinilai penting untuk meningkatkan kredibilitas kebijakan fiskal di tengah tantangan ekonomi global.
Direktur Program Institute for Development of Economics & Finance (Indef), Eisha Maghfiruha Rachbini, menekankan bahwa langkah ini harus diarahkan agar program pemerintah dapat dijalankan secara efektif dan tepat sasaran.
“Reshuffle diharapkan dapat memberikan dampak pada kinerja ekonomi, dengan menjalankan program-program prioritas dengan efektif dan tepat sasaran,” ujar Eisha dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Baca Juga: Aria Bima Pastikan PDIP Tak Campuri Reshuffle Kabinet
Menurutnya, pekerjaan rumah yang paling mendesak adalah membangun kembali kepercayaan publik dan pasar terhadap kebijakan fiskal. Kredibilitas dianggap menjadi kunci agar kebijakan tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas makro di tengah ketidakpastian global.
Eisha juga menyoroti peran Menteri Keuangan yang baru, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam meninjau kembali kelayakan dan kapasitas fiskal pemerintah. Ia menilai evaluasi struktur belanja, keadilan fiskal antara pusat dan daerah, serta alokasi dana pendidikan 20% menjadi langkah yang tidak bisa ditawar.
Dana tersebut, kata Eisha, harus benar-benar dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta kesejahteraan guru.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya strategi kebijakan untuk meningkatkan rasio pajak (tax ratio) sekaligus mengurangi ketergantungan pada utang. Upaya ini, lanjut Eisha, harus dibarengi dengan dorongan pada produktivitas sektor riil yang memiliki dampak berganda luas, sehingga dapat memperkuat daya beli masyarakat.
“Diharapkan pengelolaan anggaran ini benar-benar dievaluasi. Kebijakan fiskal harus memberikan stimulus pada lapangan pekerjaan yang lebih luas,” jelasnya.
Baca Juga: PDIP Hormati Reshuffle Kabinet, Aria Bima: Posisi Politik Tetap di Luar Pemerintahan
Dirinya juga mengingatkan agar program prioritas yang tidak layak secara anggaran tidak dipaksakan untuk dijalankan.
Selain dari sisi Indef, pandangan kritis juga datang dari Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. Ia menekankan bahwa Menkeu Purbaya perlu berani menerapkan disiplin fiskal dengan melakukan refocusing anggaran pada tahun 2026. Hal ini dinilai penting untuk memperbaiki manajemen utang negara serta meningkatkan efektivitas penggunaan APBN.
Wijayanto juga menyoroti perlunya pemberantasan underground economy yang selama ini menjadi tantangan bagi penerimaan negara. Selain itu, ia mengingatkan agar Purbaya berhati-hati dalam memberikan pernyataan publik, mengingat setiap ucapan seorang Menkeu akan mendapat perhatian serius dari pelaku pasar dan investor global.
“Karena apa yang terucap dicatat oleh investor. Jangan overpromise, overconfident, atau oversimplify, karena pasar akan mempertanyakan kredibilitasnya,” tegas Wijayanto.
Dirinya juga menyarankan agar Purbaya bekerja solid bersama jajaran wakil menteri keuangan sebagai satu tim dalam merancang kebijakan fiskal.
Kedua ekonom tersebut sepakat bahwa momentum reshuffle dapat menjadi awal penting dalam memperkuat tata kelola fiskal Indonesia. Dengan kebijakan yang kredibel, disiplin, serta berpihak pada sektor produktif, pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










