Akurat

Negara Dengan Pertumbuhan Penerimaan Pajak Tertinggi di Dunia pada 2024, Ada RI?

M. Rahman | 9 September 2025, 18:36 WIB
Negara Dengan Pertumbuhan Penerimaan Pajak Tertinggi di Dunia pada 2024, Ada RI?

AKURAT.CO Pada 2024 lalu, sejumlah negara besar mencatatkan pertumbuhan penerimaan pajak yang mengesankan.

Mengutip data Kementerian Keuangan Taiwan, nyatanya laju pertumbuhan penerimaan pajak tak selalu searah dengan pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun 2024, laju pertumbuhan tahunan pendapatan pajak Taiwan mencapai 8,8%, menandai tahun keempat berturut-turut dimana pertumbuhan pendapatan pajak melampaui pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, fenomena kesenjangan antara perubahan pendapatan pajak dan tren pertumbuhan ekonomi juga terjadi di negara besar lainnya.

Pada tahun 2024, Korea Selatan, China, dan Hong Kong menunjukkan pertumbuhan ekonomi namun pendapatan pajak mereka malah terkontraksi.

Baca Juga: Naik Dua Kali Lipat, Setoran Pajak PalmCo Tembus Rp4,1 Triliun di 2024

Di antara mereka, ekonomi China tumbuh sebesar 5%, sementara pendapatan pajak
menurun sebesar 3,4%, selisih yang relatif besar. Selisih di Hong Kong juga signifikan.

Singapura, Amerika Serikat, dan Inggris mencatat pertumbuhan positif pada kedua indikator tersebut, dengan tingkat pertumbuhan pendapatan pajak Singapura 6,6 poin persentase lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan ekonominya.

Bagaimana dengan Indonesia? Realisasi APBN 2024 lalu menunjukkan bahwa pendapatan pajak tumbuh 3,5% secara tahunan menjadi Rp1.932,4 triliun, saat ekonomi tumbuh 5,03%. 

Ekonomi Tumbuh Tapi Pajak Turun, Kok Bisa?

Situasi dimana Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh tetapi pendapatan pajak menurun bisa terjadi ketika rasio pajak terhadap PDB turun. Seringkali ini disebabkan oleh banyak hal, termasuk pemberian insentif dan kebocoran pajak. Keputusan pemerintah untuk menurunkan tarif pajak atau memberikan insentif pajak yang signifikan dapat mengurangi total penerimaan pajak.

Penyebab lain, meningkatnya penghindaran dan penggelapan pajak, term,asuk juga strategi penghindaran pajak yang sah dapat mengurangi jumlah pajak yang dikumpulkan, bahkan jika ekonomi sedang booming. Lalu pergeseran struktur dan komposisi ekonomi juga bisa berdampak. 

Jika sektor-sektor yang sedang berkembang dalam perekonomian dikenakan pajak yang lebih rendah (misalnya, peningkatan ekonomi informal atau industri-industri tertentu dengan beban pajak yang rendah), pendapatan pajak secara keseluruhan mungkin tidak meningkat secara proporsional dengan PDB.

Ketergantungan yang lebih besar pada keuntungan modal atau jenis pendapatan lain yang dikenakan pajak dengan tarif lebih rendah juga dapat menyebabkan penurunan pendapatan keseluruhan, meskipun PDB nominal sedang meningkat.

Terakhir, dalam beberapa kasus, jika inflasi tinggi dan tarif pajak tidak disesuaikan, pendapatan pajak riil mungkin menurun akibat beban pengumpulan jumlah pajak riil yang lebih rendah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa