Retaliasi Dagang China Jadi Ancaman Baru bagi Stabilitas Ekonomi Eropa

AKURAT.CO Ketegangan perdagangan antara China dan Uni Eropa kembali memanas. Pemerintah China resmi memberlakukan bea masuk anti-dumping hingga 34,9% terhadap impor brendi asal Eropa, dengan masa berlaku selama lima tahun.
Namun, sejumlah produsen besar cognac dibebaskan dari kewajiban ini setelah menyepakati harga referensi dengan otoritas China.
Dikutip dari laman reuters, langkah tersebut dipandang sebagai respons langsung atas kebijakan Uni Eropa sebelumnya yang menetapkan tarif hingga 45% terhadap kendaraan listrik (EV) buatan China.
Baca Juga: Wamen ESDM Sebut RI Bakal Tiru Langkah Sukses Vietnam Tekan Tarif Trump
Ketegangan dua arah tersebut menunjukkan bahwa relasi dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia ini semakin sarat tarik-ulur politik dan strategi industri.
Dalam pernyataannya, Kementerian Perdagangan China menekankan bahwa bea masuk hanya dikenakan terhadap produk yang dijual di bawah harga referensi, kecuali untuk perusahaan yang tunduk pada kesepakatan harga.
Tiga raksasa cognac dunia yakni Remy Cointreau SA, Pernod Ricard SA, dan Hennessy (anak usaha LVMH) dikabarkan berhasil menghindari tarif tinggi tersebut.
Sejak diberlakukan tarif sementara tahun lalu, ekspor brendi dari Uni Eropa ke China menurun drastis.
Dengan diberlakukannya tarif definitif ini, China menegaskan posisinya dalam perundingan dagang global, sekaligus mengirim sinyal tegas bahwa mereka tidak segan mengambil langkah balasan atas perlakuan serupa dari mitra dagangnya.
Sementara itu, harga saham produsen cognac menunjukkan respons positif. Saham Remy Cointreau melonjak 3,9%, disusul Pernod Ricard 1%, dan LVMH berhasil memangkas kerugian sebelumnya.
Baca Juga: Negosiasi Tarif Trump, RI Bakal Impor Energi dari AS Senilai Rp251 Triliun
Namun, dampak jangka panjang dari kebijakan ini lebih dari sekadar pasar brendi.
“Retaliasi dagang semacam ini memperuncing ketegangan diplomatik, apalagi menyangkut sektor strategis seperti otomotif dan minuman beralkohol,” ujar analis hubungan internasional dari Sciences Po, Marie Dumont.
China dan Uni Eropa kini berada di persimpangan diplomasi. Dengan latar belakang kunjungan Menteri Luar Negeri Wang Yi ke Eropa serta tertundanya beberapa pertemuan bilateral, masa depan kerja sama dagang antara kedua belah pihak menjadi sorotan utama para pengamat global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










