Akurat

Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Picu Lonjakan Harga Minyak, Bisa Tembus USD 100 per Barel

Ahada Ramadhana | 23 Juni 2025, 23:26 WIB
Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Picu Lonjakan Harga Minyak, Bisa Tembus USD 100 per Barel

AKURAT.CO Rencana Iran untuk menutup Selat Hormuz—jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia—disebut dapat memicu disrupsi besar terhadap pasar energi global dan memperparah ketidakstabilan geopolitik kawasan.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Jelang Ramadhan, menyatakan bahwa mayoritas konsumen minyak dari negara-negara Teluk adalah negara industri besar seperti India, Jepang, dan Tiongkok.

Amerika Serikat juga tak luput dari dampak penutupan tersebut, yang berpotensi mendorong harga minyak mentah naik tajam dari kisaran USD70 per barel menjadi USD100.

“Ini akan menjadi guncangan hebat terhadap pemulihan ekonomi global yang baru bangkit dari pandemi. Suplai gas (LNG) juga akan terganggu, memperburuk keadaan,” ujar Jelang kepada Akurat.co, Senin (23/6/2025).

Ia menambahkan, upaya mengalihkan rute pasokan minyak justru akan meningkatkan biaya operasional secara signifikan.

Dampak ekonomi dari penutupan Selat Hormuz, menurutnya, bisa menyeret dunia kembali ke krisis energi yang dalam.

Baca Juga: 125 Tebak-tebakan Lucu yang Receh Bikin Ngakak: Cocok Buat Ngumpul Bareng Teman dan Keluarga!

“Iran harus menghitung dampak penutupan ini secara strategis. Langkah yang diambil seharusnya melukai Amerika Serikat dan Israel secara langsung, tapi tidak menimbulkan dampak kolateral terhadap negara-negara mitra atau pembeli minyak mereka sendiri,” katanya.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak akan berdampak langsung terhadap APBN. Pemerintah harus menutup selisih harga BBM subsidi yang melonjak, berpotensi membengkakkan anggaran 2–3 kali lipat.

“Kalau pemerintah menaikkan harga BBM subsidi, maka inflasi bisa meningkat dan menghantam daya beli rakyat, terutama kelas menengah ke bawah yang sangat bergantung pada subsidi energi,” ujarnya.

Selain itu, industri pengguna BBM non-subsidi pun akan terkena imbas, berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi dan produksi dalam negeri.

“Dampaknya bisa sangat buruk untuk ekonomi nasional,” tegasnya.

Lebih lanjut, Jelang memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, maka Iran harus memperkirakan dengan cermat durasi konflik.

Baca Juga: Negara Mana yang Mendukung Perang Iran Melawan Israel? Beberapa Memiliki Senjata Nuklir!

“Banyak analis memperkirakan eskalasi militer ini bisa berlangsung 1 hingga 2 tahun sebelum pihak-pihak yang terlibat kembali ke meja perundingan,” tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.