AS Bombardir Iran, Dunia Terbelah Hadapi Krisis Baru di Timur Tengah

AKURAT.CO Langkah Amerika Serikat meluncurkan serangan udara skala besar ke sejumlah fasilitas nuklir Iran telah mengguncang tatanan geopolitik global dan menempatkan banyak negara dalam posisi serba sulit.
Serangan yang melibatkan lebih dari 125 pesawat tempur dan rudal penghancur bunker menjadi sinyal terbuka dimulainya babak baru konflik Timur Tengah.
Dikutip dari laman reuters, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons langsung terhadap potensi ancaman dari program nuklir Iran. Namun, komunitas internasional terbelah menanggapi aksi sepihak Washington.
Baca Juga: Trump Bongkar Alasan AS Hancurkan 3 Fasilitas Nuklir Iran, Ada Apa Sebenarnya?
Rusia dan China mengecam keras operasi militer tersebut dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Namun, kritik keduanya belum diikuti langkah konkret. Iran sendiri semakin terisolasi secara diplomatik.
Meskipun Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi telah bertolak ke Moskow untuk mencari dukungan, Kremlin menegaskan bahwa perjanjian kerja sama strategis yang diteken pada Januari tidak mencakup bantuan militer.
Sementara itu, negara-negara sekutu tradisional AS seperti Inggris dan Prancis memilih bersikap hati-hati. Mereka tidak secara terbuka mendukung tindakan militer Trump, meski juga tidak mengecamnya secara langsung. Jerman dan Uni Eropa menyerukan deeskalasi, tetapi gagal mencapai konsensus tindakan.
Militer Israel, dalam pernyataan resmi, menyatakan akan terus melanjutkan operasi militernya di Iran dan Jalur Gaza. Netanyahu bahkan menyiratkan bahwa operasi ini bersifat jangka panjang untuk memastikan keamanan nasional Israel.
Baca Juga: TERBARU! Balasan Iran Usai Dibom AS Dibongkar Tangan Kanan Pemimpin Tertinggi, Apa Rencananya?
Namun, kekhawatiran terbesar datang dari potensi destabilisasi kawasan. Beberapa negara Arab Teluk diam-diam menyambut serangan AS, namun tidak ingin terlibat secara langsung. Kelompok milisi yang selama ini diasosiasikan dengan Iran, termasuk Hizbullah dan milisi di Irak, belum menunjukkan kesiapan untuk bertindak.
Di sisi domestik AS, keamanan dalam negeri diperketat. Kepolisian di kota-kota besar meningkatkan patroli di tempat ibadah dan kantor diplomatik.
Meskipun belum ada ancaman konkret, Departemen Keamanan Dalam Negeri menyatakan bahwa "lingkungan ancaman meningkat" dan bisa bertahan hingga beberapa bulan ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









