Perlambatan Ekonomi Tak Surutkan Minat Masyarakat Berkurban

AKURAT.CO Pelemahan daya beli dikombinasikan dengan inflasi mendorong penurunan jumlah hewan kurban tak mengurangi kemeriahan suasana megah yang biasa terjadi saat hari raya Iduladha dirayakan di berbagai belahan dunia.
Namun demikian, pelemahan ekonomi tak menyurutkan minat masyarakat untuk berkurban.
Menurut Marulo, pengurus Mushola Darus Solihin yang terletak di Jalan Pertanian, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, jumlah hewan yang dikurbankan tahun ini meningkat.
"Tahun ini ada 15 kambing dan 3 sapi yang dikurbankan, meningkat dibandingkan tahun lalu," ujarnya kepada Akurat.co, Jumat (6/6/2025).
Pengurus Mushola Darus Solihin memang berinisiatif membuka program kurban kolektif, dimana untuk 1 ekor sapi kolektif 7 orang per orang Rp3,5 juta dan untuk 1 ekor kambing harga mulai dari Rp3 juta.
Baca Juga: Cara Mengolah Daging Kurban Agar Empuk Sempurna, Dijamin Tidak Alot!
Harga kambing bervariasi tergantung ukuran, mulai dari Rp3 juta, 3,5 juta, Rp4 juta hingga yang tertinggi tembus Rp7 juta.
Sementara itu, mengutip Associated Press, di Jakarta, para jamaah Muslim saling berdesakan di jalan-jalan dan Masjid Agung Istiqlal dipenuhi jamaah untuk sholat Jumat.
Di luar Jakarta, Pasar Ternak Jonggol dipadati oleh ratusan pedagang sapi yang berharap dapat menjual hewan kurban kepada para pembeli.
Meskipun penjualan meningkat menjelang Idul Adha, para pedagang mengatakan bahwa bisnis mereka telah kehilangan pelanggan dalam beberapa tahun terakhir karena kesulitan ekonomi setelah pandemi Covid-19.
Wabah penyakit mulut dan kuku pada tahun 2022 hingga 2023 juga secara signifikan mengurangi perdagangan hewan kurban seperti kambing, sapi, dan domba yang biasanya meningkat pesat, meskipun pemerintah Indonesia telah berupaya mengatasi wabah tersebut.
Rahmat Debleng, salah satu penjual di pasar tersebut, mengatakan bahwa sebelum pandemi dan wabah PMK, ia dapat menjual lebih dari 100 ekor sapi dalam dua minggu menjelang Idul Adha.
Namun menjelang perayaan tahun ini, hanya 43 ekor sapi yang terjual, dan 6 ekor sapi masih tersisa di lapaknya.
Terlepas ancaman wabah penyakit mulut dan kuku masih membayangi, namun penurunan penjualan hewan kurban lebih disebabkan oleh kesulitan ekonomi,” ujar Debleng.
Data pemerintah kota Jakarta mencatat jumlah hewan kurban yang tersedia tahun ini sebanyak 35.133 ekor, turun 57% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pemerintah telah menetapkan hari Senin depan sebagai hari libur tambahan setelah hari Jumat untuk memberikan lebih banyak waktu bagi masyarakat untuk berkumpul dengan keluarga mereka.
Momentum Idulfitri diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia, di mana konsumsi rumah tangga membantu mendorong PDB.
Asal tahu, pada kuartal I-2025, PDB Indonesia melambat 4,87%, pertama kalinya di bawah 5% dalam 5 tahun terakhir di luar masa pandemi.
Hal ini berkontribusi lebih dari 50% terhadap perekonomian tahun lalu, meskipun para analis memperkirakan belanja konsumen yang lebih lemah pada tahun 2025.
Di belahan dunia lainnya, negara-negara Asia Selatan seperti India dan Bangladesh akan merayakan Idul Adha pada hari Sabtu.
Menjelang perayaan ini, banyak umat Muslim di wilayah ini beralih ke pasar hewan untuk membeli dan menjual jutaan hewan kurban.
Di New Delhi, para penjual sibuk merawat hewan-hewan mereka di pasar-pasar ini, sementara para calon pembeli melakukan negosiasi harga dengan mereka.
Mohammad Ali Qureshi, salah satu penjual, mengatakan bahwa tahun ini kambing-kambingnya dihargai hingga RP10,4 juta per ekor, sekitar hampir Rp1 juta lebih tinggi dari tahun lalu.
“Sebelumnya, penjualan kambing sangat lambat, tetapi sekarang pasar sedang bagus. Harga-harga mulai naik,” kata Ali.
Persiapan untuk festival ini juga memuncak di Kashmir yang dikuasai India, di mana banyak Muslim mewarnai domba dan kambing dengan pacar sebelum dikurbankan.
“Kami mengikuti tradisi Nabi Ibrahim,” kata Riyaz Wani, seorang penduduk di kota utama Kashmir, Srinagar, ketika keluarganya mengoleskan henna pada seekor domba yang akan dikurbankan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










