Trump Mainkan Tarif Tinggi demi Tekan Lawan Dagang Global, Efektifkah?

AKURAT.CO Strategi dagang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mengandalkan ancaman tarif tinggi sebelum melunak di menit-menit akhir menuai sorotan tajam. Langkah itu dianggap mampu menghasilkan konsesi dalam waktu cepat, namun sekaligus menciptakan ketidakpastian global yang memperlemah kepercayaan pasar.
Trump kembali menjadi sorotan setelah menyebut pendekatannya sebagai bagian dari “negosiasi”, bukan inkonsistensi.
“Itu disebut negosiasi,” ujarnya dikutip dari laman reuters, seraya menanggapi pertanyaan terkait fenomena “TACO” atau Trump Always Chickens Out—istilah yang populer di kalangan investor pasar modal.
Baca Juga: Keyakinan Konsumen AS Melonjak di Tengah Ancaman Tarif Baru Trump
Fenomena ini merujuk pada pola berulang di mana Trump mengancam tarif tinggi untuk kemudian mundur dengan dalih pencapaian kesepakatan. Bursa saham Wall Street tercatat sempat bergejolak ketika Trump mengancam tarif 50% untuk barang Eropa, namun berbalik menguat setelah pengumuman penundaan tarif.
Strategi semacam ini, menurut pengamat perdagangan internasional dari Peterson Institute for International Economics, Chad Bown, memang bisa efektif untuk jangka pendek.
“Namun dalam jangka panjang, kredibilitas kebijakan dagang AS bisa menurun. Mitra dagang tak lagi menganggap ancaman itu serius,” ujar Bown.
Sebab, lanjut Bown, pendekatan Trump ini juga berdampak langsung ke sektor riil. Ancaman tarif 25% terhadap industri otomotif pada Maret lalu memicu gelombang lobi dari produsen besar.
"Setelah itu, Trump kembali melunak, memberikan keringanan pada bea logam dan kompensasi untuk produsen mobil lokal," tegasnya.
Tak hanya mitra dagang, pelaku pasar juga dibuat resah. Konsumen menghadapi risiko kenaikan harga barang elektronik, meski pemerintah sempat mengeluarkan pengecualian tarif untuk ponsel dan komputer.
“Pasar sulit membaca arah kebijakan,” ujar analis pasar modal dari J.P. Morgan, Caroline Simmons.
Baca Juga: Anindya: Trump Buka Peluang Kesepakatan Dagang RI-AS Jelang 8 Juli 2025
Meski demikian, taktik keras Trump sempat memaksa negara seperti Kolombia menerima penerbangan deportasi setelah ancaman tarif 50%. Namun, pengamat menilai efektivitas taktik semacam itu makin berkurang jika terlalu sering digunakan.
“Seiring waktu, lawan akan menyadari bahwa ancamannya bisa ditawar. Itu menggerus daya tawarnya sendiri,” ujar Bown.
Trump bersikukuh, strategi itu merupakan bagian dari seni negosiasi. “Mereka tidak akan datang hari ini untuk bernegosiasi jika saya tidak mengenakan tarif 50%,” katanya.
Namun publik dan pelaku pasar agaknya menuntut sesuatu yang lebih konsisten daripada hanya gertakan semata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









