Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Kontraksi, Waketu Komisi XI: Alarm Serius
Camelia Rosa | 7 Mei 2025, 17:08 WIB

AKURAT.CO Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, M Hanif Dhakiri merespon angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 4,87% secara tahunan (year-on-year).
Seperti diketahui, realisasi tersebut merupakan angka terendah sejak kuartal III-2021 dan di bawah ekspektasi pasar.
"Ini alarm serius. Mesin utama pertumbuhan, yakni konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah, mengalami perlambatan bersamaan. Kalau tidak ada koreksi arah, target (pertumbuhan ekonomi) 5,2 persen akan sulit tercapai," jelas Hanif yang juga mantan Menteri Tenaga Kerja belum lama ini.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Turun ke Level Terendah dalam 14 Kuartal, Target 6 Persen di 2026 Realistis?
Hanif juga menyoroti konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 4,89%, terendah dalam lima kuartal terakhir, meskipun ada momentum Ramadan dan Idulfitri. Menurutnya, hal ini menunjukkan tekanan daya beli yang belum pulih, khususnya di kelompok menengah bawah.
Investasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga hanya tumbuh 2,12%, mencerminkan ketidakpastian dunia usaha. Belanja pemerintah justru terkontraksi, padahal seharusnya menjadi penopang utama di tengah pelemahan sektor swasta.
"Negara seharusnya hadir saat pasar melemah, bukan justru tertahan oleh proses birokrasi dan perencanaan yang tidak sigap. Ini soal ketepatan dan kecepatan eksekusi belanja,” tegas Hanif.
Ia juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya dikejar dari angka, melainkan harus berkualitas dan menyentuh langsung kehidupan rakyat.
Ia mendorong pemerintah memperkuat belanja produktif, mempercepat insentif sektor riil, dan mengarahkan kebijakan pada penguatan konsumsi domestik dan penciptaan lapangan kerja.
Komisi XI DPR RI, menurutnya, akan terus mengawasi dan mendorong pemerintah agar kebijakan fiskal dan moneter bersinergi secara adaptif dan inklusif.
"Pertumbuhan yang tidak berpijak pada pemerataan dan ketahanan struktural hanya akan memperbesar risiko ke depan," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










