Akurat

Indonesia Perlu Reformasi Domestik Hadapi Dampak Perang Dagang AS-China

Demi Ermansyah | 13 April 2025, 18:35 WIB
Indonesia Perlu Reformasi Domestik Hadapi Dampak Perang Dagang AS-China

AKURAT.CO Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China dinilai berpotensi berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia.

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, menekankan bahwa Indonesia harus bersiap menghadapi dinamika global tersebut, tidak hanya melalui diplomasi, tetapi juga dengan memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri.

“Kita perlu melakukan diplomasi dan forward looking engagement tidak hanya dengan AS, tetapi juga dengan China,” ujar Mari Elka dalam diskusi publik yang diselenggarakan The Yudhoyono Institute (TYI) di Jakarta, Minggu (13/4/2025).

Mari menilai, China yang kini menghadapi tekanan tarif dari AS, akan cenderung memperkuat hubungannya dengan kawasan ASEAN.

Dalam konteks ini, Indonesia memiliki peluang strategis untuk menjadi mitra dialog yang kuat, namun tetap harus berhati-hati terhadap potensi dampak negatif seperti banjir impor akibat trade diversion.

“Kita harus bernegosiasi dengan itikad baik, tetapi juga memperkuat sistem otonom melalui reformasi nyata di dalam negeri,” katanya.

Baca Juga: Ditunda 90 Hari, Legislator Ingatkan Kebijakan Tarif 32 Persen AS Perlu Disikapi Hati-Hati

Menurut Mari, salah satu skenario yang harus diwaspadai adalah masuknya barang-barang ekspor China ke pasar Indonesia sebagai dampak dari pembatasan pasar AS.

Tentunya hal tersebut bisa terjadi jika sistem pengawasan perdagangan Indonesia belum siap atau longgar, sehingga mengancam industri dalam negeri.

Selain itu, Mari menyoroti pentingnya respons kolektif dari ASEAN. Ia menilai bahwa kawasan ini harus membangun kepercayaan dan menjauhi kecenderungan proteksionisme, baik secara langsung maupun terselubung.

“ASEAN harus berfokus pada reformasi ekonomi domestik, bukan pembatasan perdagangan,” tegasnya.

Di sisi lain, Mari mengapresiasi langkah-langkah diplomasi yang mulai ditempuh oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto serta pernyataan dari para menteri ekonomi ASEAN yang menunjukkan sinyal positif dalam merespons perubahan global.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kepentingan nasional tetap harus menjadi prioritas utama. Indonesia harus memastikan bahwa setiap langkah kebijakan luar negeri selaras dengan upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Baca Juga: Perang Tarif China-AS Memanas, Xi Jinping Minta Uni Eropa Berdiri di Sisi Perdagangan Bebas

“Kita bisa ambil peran strategis secara regional dan global, tapi itu semua harus dimulai dari rumah sendiri. Reformasi adalah kunci,” ujar Mari mengakhiri.

Dengan posisi strategis di Asia Tenggara dan status sebagai negara berkembang terbesar di kawasan, Indonesia dihadapkan pada pilihan krusial: menjadi penonton dalam konflik dagang dua raksasa dunia, atau menjadi aktor aktif yang mampu menavigasi tantangan menjadi peluang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.