Akurat

3 Jurus Jitu Indonesia Hadapi Gempuran Perang Dagang Global

Ahada Ramadhana | 10 April 2025, 19:44 WIB
3 Jurus Jitu Indonesia Hadapi Gempuran Perang Dagang Global

AKURAT.CO Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang menaikkan tarif bea masuk hingga 32 persen terhadap sejumlah produk, termasuk dari Indonesia, dinilai menjadi pukulan langsung terhadap stabilitas perdagangan global.

Pengamat ekonomi dari Universitas Surakarta, Agus Trihatmoko, menyebut, langkah politik-ekonomi Trump ini merupakan strategi ofensif untuk mengembalikan dominasi ekonomi AS, namun justru memicu ketegangan dagang global.

“Langkah Trump sangat bisa diprediksi. Ini respons atas kemajuan pesat ekonomi Tiongkok yang telah mengganggu supremasi ekonomi Amerika di level global,” ujar Agus kepada Akurat.co, Kamis (10/4/2025).

Menurutnya, kenaikan tarif tersebut akan berdampak langsung terhadap ekspor-impor Indonesia.

Produk ekspor Tanah Air, utamanya sektor manufaktur dan komoditas, akan sulit bersaing di pasar AS.

Di sisi lain, bahan baku dan teknologi dari AS yang dibutuhkan dalam proses produksi dalam negeri juga akan menjadi lebih mahal jika Indonesia menerapkan tarif serupa.

Baca Juga: Dukung Prestasi Persija, Pramono Anung Beri Keringanan Pajak Tontonan 60 Persen

“Ini jadi dilema. Biaya produksi bisa melonjak jika kita balas dengan tarif serupa. Namun jika tidak, industri kita berisiko tertekan. Dampak tidak langsungnya, perlambatan ekonomi global bisa menyeret Indonesia ke dalam tekanan yang lebih dalam,” jelas Agus.

Agus menilai, Indonesia tidak bisa tinggal diam dan harus mengambil tiga langkah strategis:

1. Renegosiasi Tarif

Pemerintah harus memaksimalkan peluang renegosiasi tarif dagang dengan AS. Menurutnya, hubungan personal antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump bisa menjadi kunci membuka ruang kesepakatan yang lebih adil.

Ada harapan besar dari kedekatan Prabowo dan Trump. Ini momentum untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia,” ujarnya.

2. Diversifikasi Pasar Ekspor

Indonesia, lanjutnya, harus segera mengalihkan fokus ekspor dari pasar AS ke negara-negara potensial lain. Langkah ini disebutnya sudah mulai dipersiapkan oleh Kemenko Perekonomian.

“Pasar baru harus dijangkau secara agresif, jangan sampai ketergantungan terhadap AS membuat kita lumpuh,”tegasnya.

3. Percepatan Hilirisasi dan Industrialisasi Nasional

Ia juga menegaskan pentingnya strategi hilirisasi, baik di sektor minerba, pertanian, maupun kelautan, untuk mengurangi ketergantungan pada negara lain.

“Presiden Prabowo benar. Kita harus berdikari. Peran Danantara, swasta nasional, dan BUMD harus dimaksimalkan dalam kerangka Indonesia Raya Incorporated,” papar Agus.

Agus juga menekankan, hilirisasi yang berkelanjutan harus dijalankan dengan kehati-hatian dan prioritas sektoral yang jelas.

Ia optimis bahwa kerja kolaboratif antara Danantara dan kementerian teknis bisa mewujudkan transformasi ekonomi yang kuat dan berdaulat.

“Ini pekerjaan besar yang bukan sekadar teknokratis, tapi juga visioner. Kita ingin BUMN kembali menjalankan peran sejatinya sebagai agen pembangunan nasional,” pungkasnya.

Baca Juga: Golkar Hargai Keputusan Megawati Tidak Masuk Koalisi Tapi Dukung Pemerintahan Prabowo

Informasi terbaru, Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan penundaan pengenaan tarif tinggi ke puluhan negara untuk fokus perang dagang dengan China.

Terbaru, Trump meningkatkan tarif impor atas barang-barang asal China menjadi 125 persen dari 104 persen yang berlaku pada Rabu (9/4/2025).

Dikutip dari Reuters, Trump menyebut banyak orang yang tak suka dengan penetapan tarif tinggi terhadap mitra dagangnya sebelum adanya penundaan pengenaan tarif.

Pasalnya, kebijakan tersebut berimbas pada keluarnya modal asing triliunan dolar yang menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.