Hiraukan Tarif AS, China Siap Genjot Impor Produk dari India

AKURAT.CO China mengungkapkan kesediaannya untuk meningkatkan impor produk India guna menyeimbangkan perdagangan antara kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Duta Besar China untuk India, Xu Feihong, sesaat sebelum pengumuman tarif AS yang diperkirakan akan berdampak pada negara-negara Asia Selatan.
"Kami bersedia bekerja sama dengan pihak India untuk memperkuat kerja sama dalam perdagangan dan bidang lainnya, serta mengimpor lebih banyak produk India yang sesuai dengan pasar Tiongkok," ujar Xu dikutip dari laman Global Times.
Baca Juga: Arus Balik Lebaran, ASDP Beri Kebijakan Diskon Tarif Penyeberangan Lintas Bakauheni-Merak
Mengacu kepada data Kementerian Perdagangan India, nilai perdagangan bilateral kedua negara pada 2023-2024 mencapai USD101,7 miliar, dengan India mengalami defisit besar.
Dimana ekspor utama India ke China meliputi minyak bumi, bijih besi, produk laut, dan minyak sayur, yang totalnya mencapai USD16,6 miliar.
Langkah China untuk meningkatkan impor ini dinilai sebagai strategi meredam ketegangan ekonomi dengan India, yang sempat membatasi akses bagi perusahaan teknologi China akibat ketegangan di perbatasan Himalaya pada 2020.
Selain itu, lanjut Dubes Feihong, momentum peringatan 75 tahun hubungan diplomatik menjadi ajang bagi kedua negara untuk semakin mempererat kerja sama ekonomi.
Baca Juga: Tarif Trump Makin Menggila, China Tawarkan Peluang Emas bagi Investor Asing
Sebelumnya, Presiden China, Xi Jinping, dalam pesannya kepada Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyebut bahwa menjadi mitra adalah pilihan yang tepat bagi kedua negara.
Xi juga menegaskan pentingnya koordinasi dalam isu internasional serta menjaga perdamaian di wilayah perbatasan.
Tidak Peduli Peringatan AS, China Gas Terus
Ketika Amerika Serikat bersiap memberlakukan tarif baru yang berpotensi memukul negara-negara di Asia Selatan, China mengambil langkah berbeda dengan menawarkan kerja sama perdagangan yang lebih erat dengan India.
"China siap membeli lebih banyak produk dari India guna menyeimbangkan defisit perdagangan," paparnya kembali.
Langkah ini datang di tengah meningkatnya tekanan dari AS terhadap kedua negara.
Bahkan Presiden AS, Donald Trump kerap mengkritik China dan India atas praktik perdagangan yang dinilainya tidak adil.
Oleh karena itu, implikasi dari hal tersebut Trump pada akhirnya mengumumkan tarif timbal balik terhadap berbagai negara, yang dijadwalkan berlaku 4 April mendatang.
Bagi India, ajakan China tersebut bisa menjadi peluang baru, terutama di tengah ketidakpastian perdagangan global akibat kebijakan proteksionisme AS.
Meski hubungan India dan China sempat memburuk pasca-bentrokan di Himalaya pada 2020, kedua negara mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan hubungan, seperti kesepakatan memulai kembali penerbangan langsung pasca-KTT BRICS tahun lalu.
Namun, India tetap berhati-hati dalam menerima tawaran China, mengingat langkah pembatasan akses terhadap perusahaan China di masa lalu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










