Akurat Logo

Kala AS Bikin Kacau Stabilitas Ekonomi, Akankah China Hadir Sebagai Kekuatan Stabil?

Demi Ermansyah | 8 Maret 2025, 17:30 WIB
Kala AS Bikin Kacau Stabilitas Ekonomi, Akankah China Hadir Sebagai Kekuatan Stabil?

AKURAT.CO Dikala Amerika Serikat memiliki nahkoda bernama Donald Trump yang mampu mengubah arah geopolitik dunia, China justru mencoba menampilkan diri sebagai kekuatan stabil yang menjunjung tatanan dunia berbasis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Mengacu pada saat konferensi pers yang berlangsung di Beijing, Jumat (7/3/2025) lalu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi menyampaikan seruan kepada negara-negara Eropa untuk mempererat komunikasi dengan Beijing.

“China telah membawa stabilitas yang sangat dibutuhkan di dunia yang tengah berubah dan penuh gejolak,” ujar Wang dikutip dari laman bloomberg.

Ketidakpastian semakin meningkat pasca Trump menunjukkan kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, mengurangi dukungan untuk Ukraina, serta melontarkan klaim kontroversial terkait wilayah lain seperti Greenland dan Gaza.

Baca Juga: Donald Trump Minta USD500 Miliar dari Ukraina, Realistis atau Sekedar Manuver Politik?

Kondisi tersebut membuat banyak negara Eropa mulai meragukan komitmen AS dalam NATO.

Melihat celah tersebut, China mencoba mengisi kekosongan dengan menampilkan diri sebagai mitra dialog yang rasional.

Wang menegaskan bahwa hubungan China-Rusia tetap kokoh di tengah dinamika global, meskipun ia kembali menyatakan dukungan Beijing terhadap penyelesaian damai perang di Ukraina.

Tak hanya itu, Wang juga menyoroti kemajuan ekonomi negaranya, termasuk dalam bidang kecerdasan buatan.

Wang pun mempertanyakan efektivitas kebijakan ekonomi AS, seperti tarif perdagangan, yang dinilai gagal menekan inflasi maupun memperbaiki defisit perdagangan.

“Persahabatan China-Rusia adalah sebuah kepastian di dunia yang penuh ketidakstabilan,” tegas Wang.

Baca Juga: Donald Trump Respon Santai Rencana Uni Eropa Batasi Impor Produk Pangan AS

Langkah diplomasi ini juga disebut sebagai upaya strategis Beijing untuk meredam tekanan dari AS dan mendekatkan diri pada Uni Eropa, setelah sebelumnya keberhasilan Joe Biden mendorong Eropa menjauh dari pengaruh China.

Usut punya usut, di tengah rivalitas dua kekuatan besar, China tampaknya berupaya mengukuhkan citra sebagai pihak yang lebih stabil, rasional, dan siap bekerja sama, meskipun di sisi lain tetap menunjukkan ketegasan dalam isu sensitif seperti Taiwan dan Laut China Selatan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.