Bos Apindo Sebut Investasi Padat Karya Kunci Atasi Ketimpangan Lapangan Kerja
Hefriday | 18 Februari 2025, 18:52 WIB

AKURAT.CO Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta W. Kamdani, menegaskan bahwa investasi yang mengalir ke sektor padat karya memiliki potensi besar untuk menggenjot perekonomian Indonesia.
Menurutnya, pergeseran fokus investasi ke sektor padat modal justru mengakibatkan terbatasnya penciptaan lapangan kerja.
Shinta menyampaikan, sebagai konsekuensinya, lapangan kerja yang tercipta semakin sedikit, sementara jumlah angkatan kerja terus bertambah atau dengan kata lain ada ketimpangan lapangan kerja.
“Konsekuensinya, lapangan kerja yang tercipta semakin sedikit, sementara jumlah angkatan kerja terus bertambah,” kata Shinta, dikutip dari keterangan resmi APINDO CEO Gathering di Jakarta, Selasa (18/2/2025).
“Hal ini menciptakan ketimpangan yang semakin lebar antara ketersediaan lapangan kerja dan kebutuhan tenaga kerja, tenaga kerja terpaksa beralih ke sektor jasa dengan produktivitas lebih rendah, bahkan masuk ke sektor informal yang rentan,” imbuhnya.
Akibatnya, banyak tenaga kerja terpaksa beralih ke sektor jasa yang memiliki produktivitas lebih rendah, bahkan masuk ke sektor informal yang rentan.
Kondisi ini semakin memperlebar kesenjangan antara kebutuhan akan lapangan kerja yang berkualitas dan ketersediaannya.
Selain itu, Shinta mengkritisi penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Ia menyinggung fenomena deindustrialisasi dini, di mana sektor manufaktur kehilangan daya dorongnya sebelum mampu mengangkat ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi.
Data perbandingan dengan negara-negara ASEAN semakin menyoroti permasalahan ini. Pada tahun 2023, kontribusi manufaktur di Indonesia hanya mencapai 19%, lebih rendah dibandingkan Thailand (25%), Malaysia (23%), dan Vietnam (24%).
Hal ini menunjukkan bahwa daya saing produk Indonesia, khususnya produk padat karya seperti tekstil, mengalami penurunan selama dekade terakhir.
Struktur industri Indonesia saat ini pun menghadapi tantangan serius yang disebut sebagai “missing middle.”
Shinta mengungkapkan bahwa industri kecil mendominasi dengan mencakup 96 persen dari total industri, sedangkan industri menengah dan besar masing-masing hanya menyumbang 3% dan 1%.
Struktur ini mengakibatkan keterkaitan antar industri yang lemah dan ketergantungan tinggi pada impor bahan baku.
Situasi tersebut menimbulkan risiko berkelanjutan bagi pertumbuhan ekonomi, karena kurangnya industri menengah dan besar menghambat perkembangan ekosistem bisnis yang lebih terintegrasi dan inovatif.
Keterbatasan industri domestik yang mampu memproduksi secara massal juga berdampak pada daya saing produk Indonesia di pasar global.
Dalam menghadapi tantangan ini, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dan Menteri Perdagangan Budi Santoso turut menyampaikan strategi strategis dalam CEO Gathering. Menteri Ketenagakerjaan mengajak para pengusaha untuk aktif terlibat dalam gerakan produktivitas nasional yang akan segera diluncurkan.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha.
Ia mengungkapkan bahwa penguatan daya saing produk Indonesia merupakan kunci utama untuk menghadapi persaingan global serta menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan berkualitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









