Dilantik Hari Ini, Trump Siap Lanjut Perang Dagang dengan China

AKURAT.CO Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mencuri perhatian dengan langkah tegasnya terhadap China, termasuk rencana untuk melanjutkan perang dagang.
Meski sempat memuji Presiden China, Xi Jinping, Trump tetap berencana memberlakukan tarif besar-besaran hingga 60% pada berbagai produk asal China. Kebijakan ini memunculkan spekulasi tentang bagaimana arah hubungan kedua negara di masa depan.
Mengacu kepada masa jabatan pertamanya, Trump memulai perang dagang dengan China yang berdampak luas pada ekonomi global. Tarif tinggi pada produk China menyebabkan rantai pasok global berubah drastis.
Baca Juga: Trump Ajak Musk Tekan Defisit Fiskal AS
Ditambah dengan hadirnya pandemi Covid-19, yang semakin memperparah situasi ekonomi dunia. Kini, Trump yang hari ini dilantik kembali dengan agenda serupa. Ia menegaskan bahwa kebijakan keras terhadap China akan menjadi salah satu prioritas utamanya.
Dilansir Reuters, Senin (20/1/2025), Calon Menteri Keuangan AS, Scott Bessent bahkan menyebut ekonomi China sebagai 'paling tidak seimbang di dunia'. Sebab bagi dirinya China menggunakan strategi ekspor barang murah untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Masa Depan AS-China
Selain perdagangan, Trump juga menyoroti isu fentanyl, obat terlarang yang menyebabkan lonjakan kasus overdosis di AS. Ia menuduh China memproduksi bahan kimia prekursor yang digunakan untuk membuat fentanyl.
Bahkan pendahulunya, Joe Biden menjadikan isu tersebut sebagai prioritas diplomatik untuk memperbaiki hubungan dengan Beijing.
Di sisi lain, Taiwan tetap menjadi isu yang sensitif. Xi mendesak AS untuk menangani masalah ini dengan hati-hati, mengingat Taiwan selama ini menjadi sumber ketegangan utama antara kedua negara. Langkah Trump di isu ini akan sangat menentukan arah hubungan AS-China ke depan.
Sementara itu, China menghadapi tantangan ekonomi besar. Pertumbuhan ekonominya mencapai 5% tahun lalu, namun konsumsi domestik menurun, investasi properti merosot, dan ancaman deflasi terus membayangi.
Mata uang China juga terdepresiasi lebih dari 5% terhadap dolar dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut data resmi yang dikeluarkan oleh Badan Otoritas China, sektor perdagangan menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi China. Namun, jika Trump benar-benar memberlakukan tarif besar-besaran, tekanan pada ekonomi China akan semakin besar.
Meski memuji Xi sebagai pemimpin yang kuat, Trump tetap menunjukkan sikap keras terhadap China. Kombinasi kebijakan perdagangan dan tekanan diplomatik menjadi strategi utamanya.
Dengan memasukkan tokoh garis keras seperti Marco Rubio di kabinetnya, Trump memberikan sinyal bahwa pendekatan tegas terhadap China akan terus berlanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








