Dalam berbagai acara tahun baru bersama pelaku industri dan rapat dengan manajer cabang BoJ, Ueda mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan mulai menyadari pentingnya pertumbuhan upah yang berkelanjutan.
“Kami melihat adanya kemajuan dalam negosiasi upah. Perusahaan kini lebih sadar akan kebutuhan untuk menaikkan gaji guna mendorong daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” ungkap Ueda melalui lansiran Reuters, Kamis (16/1/2025).
Baca Juga: Inflasi Tokyo Bakal Picu BoJ Untuk Naikkan Suku Bunga?Laporan ekonomi regional BoJ yang dirilis sebelumnya juga mendukung pandangan ini. Beberapa perusahaan besar, seperti Aeon Co dan Nippon Life Insurance, bahkan berencana menaikkan gaji karyawan mereka hingga 6%.
Langkah ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam pendekatan perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan.
Optimisme ini beriringan dengan momentum negosiasi upah musim semi, yang menjadi salah satu perhatian utama BoJ dalam menentukan kebijakan moneter.
Menurut Ueda, tren positif ini akan menjadi dasar penting dalam mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan 23-24 Januari mendatang.
“Negosiasi upah kali ini dimulai dengan catatan yang relatif positif, dan ini menjadi faktor penting dalam menilai prospek ekonomi secara keseluruhan,” tambah Ueda dalam pidatonya di acara Asosiasi Bank Regional Jepang.
Namun, tidak hanya tren upah yang menjadi sorotan. BoJ juga akan memantau inflasi dan dinamika ekonomi global, termasuk kebijakan moneter di Amerika Serikat.
Dikabarkan bank sentral akan mempertimbangkan peningkatan proyeksi inflasi dalam laporan prospek ekonomi terbaru. Faktor seperti lonjakan harga beras dan pelemahan yen menjadi alasan utama dibalik revisi ini.
Deputi Gubernur BoJ, Ryozo Himino, sebelumnya juga mengisyaratkan pentingnya tren upah dalam menentukan arah kebijakan moneter.
“Dewan BoJ akan mempertimbangkan semua faktor, termasuk prospek inflasi dan tren upah, sebelum mengambil keputusan akhir,” ujar Himino.
Dengan meningkatnya kesadaran perusahaan terhadap kebutuhan pertumbuhan upah dan dukungan kebijakan moneter yang lebih fleksibel, Jepang tampaknya berada di jalur yang tepat untuk memperkuat ekonominya.
Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kebijakan suku bunga ultra-rendah yang telah menjadi ciri khas Jepang akan segera berakhir.
Bagi masyarakat Jepang, kenaikan upah ini tentunya menjadi angin segar, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup.
Selain itu, langkah ini juga diharapkan mampu meningkatkan daya beli dan memperkuat konsumsi domestik, yang menjadi pilar penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Jepang.