Akurat

Genjot Pendapatan dari Aktivitas Impor, Trump Bakal Bentuk ERS

Demi Ermansyah | 16 Januari 2025, 07:45 WIB
Genjot Pendapatan dari Aktivitas Impor, Trump Bakal Bentuk ERS

AKURAT.CO Presiden terpilih AS, Donald Trump, kembali memantik perhatian dengan janji ambisinya membentuk External Revenue Service (ERS).

Dimana badan baru ini nantinya direncanakan untuk mengelola dan memungut tarif impor asing, sekaligus menjadi alat untuk mendatangkan lebih banyak pendapatan negara dari perdagangan internasional. 

"Saya akan mendirikan External Revenue Service untuk memungut tarif, bea masuk, dan semua pendapatan dari perdagangan luar negeri. Mereka yang selama ini menikmati keuntungan dari perdagangan kita akan mulai membayar bagian yang adil," ucap Trump melalui lansiran Reuters, Kamis (16/1/2025).

Baca Juga: Normalisasi Dolar AS Jelang Laporan Data Inflasi

Dirinya bahkan menandai tanggal 20 Januari 2025 sebagai hari kelahiran resmi ERS.
 
Tentunya langkah tersebut dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Trump serius menepati janji kampanyenya untuk memberlakukan tarif besar-besaran, baik kepada sekutu maupun pesaing dagang seperti China. 

Tarif ini, menurutnya, juga bertujuan untuk mendukung pengembalian pekerjaan manufaktur ke AS dan mengimbangi defisit perdagangan yang terus meningkat.

Apa Itu External Revenue Service?

ERS dirancang untuk mengambil alih tugas pengumpulan tarif yang saat ini dipegang oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP).

Sejak era Alexander Hamilton, CBP telah mengelola dokumen perdagangan, melakukan audit, dan memungut bea masuk.

Hasilnya disetorkan ke Dana Umum Departemen Keuangan. Namun, menurut Trump, pendapatan ini belum dimaksimalkan.

Jika ERS terbentuk, badan ini akan menjadi wajah baru pengelolaan pendapatan tarif impor. Meski demikian, skeptisisme muncul dari berbagai pihak. 
 
"Ini hanya pencitraan politik. Fungsi yang diusulkan ERS sebenarnya sudah dilakukan oleh CBP," ujar Peneliti senior Manhattan Institute, Brian Riedl.

Pengumpulan tarif memang bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi AS, tetapi analis memperingatkan bahwa mayoritas tarif sebenarnya dibayar oleh konsumen domestik.
 
Dengan kata lain, beban finansial ini tidak benar-benar dibebankan pada negara mitra dagang seperti yang diklaim Trump.

Ernie Tedeschi, pakar dari Yale University Budget Lab, menilai bahwa pembentukan ERS membutuhkan persetujuan Kongres, sehingga prosesnya tidak akan mudah. 
 
"ERS akan mengambil alih fungsi CBP, tetapi kecil kemungkinan proses pengumpulan tarif akan berubah drastis," katanya.

Selama kampanye, Trump menjanjikan tarif minimum 10% hingga 20% untuk semua barang impor, dan hingga 60% untuk produk asal China. 
 
Bahkan dirinya juga mengancam akan menaikkan tarif terhadap Kanada dan Meksiko jika kedua negara tidak membantu menekan migrasi ilegal dan perdagangan narkoba.

Namun, kebijakan ini memiliki risiko. Para ekonom memperingatkan bahwa tarif tinggi dapat meningkatkan harga barang konsumsi, memperburuk inflasi, dan mengurangi daya beli masyarakat.
 
Bagi pasar dan komunitas bisnis, ketidakpastian terkait kebijakan ini memicu kekhawatiran.

Meski demikian, Trump dan tim ekonominya dikabarkan tengah membahas strategi untuk menaikkan tarif secara bertahap.
 
Pendekatan ini dimaksudkan untuk memberikan tekanan diplomatik tanpa memicu lonjakan inflasi secara langsung.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.