Akurat

Genting, AS Tuduh China Retas Departemen Keuangan

Demi Ermansyah | 31 Desember 2024, 15:26 WIB
Genting, AS Tuduh China Retas Departemen Keuangan

bendera china

AKURAT.CO Sempat mencair berkat pertemuan antara Presiden Joe Biden dan Presiden Xi Jinping di KTT APEC bulan lalu, hubungan AS dan China kembali memanas. 

Dimana hal tersebut disebabkan oleh tuduhan peretasan terhadap Departemen Keuangan AS dan jaringan telekomunikasi yang melibatkan peretas yang diduga disponsori oleh pemerintah China.  
 
Menurut laporan Gedung Putih, sembilan perusahaan telekomunikasi AS terkena dampak dari kampanye spionase ini. Peretas bahkan disebut-sebut berhasil menyusup ke perangkat milik beberapa tokoh penting, seperti Donald Trump dan anggota staf Wakil Presiden Kamala Harris.  
 
 
Tak menunggu lama, pasca tuduhan tersebut China dengan tegas membantah semua tuduhan peretasan tersebut. Dalam pernyataan resminya melansir dari Bloomberg, Kedutaan Besar China di Washington menyebut klaim peretasan sebagai tuduhan tidak rasional. Tak sampai disitu saja mereka juga menegaskan bahwa AS perlu berhenti menggunakan isu keamanan siber untuk memfitnah China.  
 
Presiden Xi Jinping dalam pertemuannya dengan Joe Biden juga menyatakan bahwa tuduhan peretasan tidak didukung oleh bukti yang kuat. Namun, pemerintahan Biden tampaknya tetap bersikeras bahwa ada keterlibatan langsung China dalam insiden ini.  
 
Meskipun begitu, Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS untuk Siber dan Teknologi Baru, Anne Neuberger mengungkapkan bahwa pemerintah AS sedang merancang langkah-langkah baru untuk meminta pertanggung jawaban dari China. Salah satu upaya yang sedang dipertimbangkan adalah memperluas larangan terhadap perusahaan telekomunikasi asal China di pasar AS.  
 
Tindakan ini menunjukkan bahwa meskipun sempat ada kerja sama yang harmonis, hubungan kedua negara masih terancam oleh isu keamanan siber yang sensitif. Ke depan, isu ini berpotensi memengaruhi dinamika diplomatik dan ekonomi antara dua kekuatan global tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.