Akurat

Inflasi Tokyo Bakal Picu BoJ Untuk Naikkan Suku Bunga?

Demi Ermansyah | 27 Desember 2024, 17:41 WIB
Inflasi Tokyo Bakal Picu BoJ Untuk Naikkan Suku Bunga?

bank of

AKURAT.CO Bank of Japan (BoJ) berada di persimpangan penting dalam kebijakan moneternya.

Lonjakan inflasi di Tokyo pada Desember memicu spekulasi bahwa BoJ mungkin segera menaikkan suku bunga, yang telah bertahun-tahun berada di level ultra-rendah. Namun, keputusan ini tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Inflasi di Tokyo, yang sering menjadi barometer inflasi nasional, mencatat kenaikan 2,4% pada Desember, lebih tinggi dari 2,2% di bulan sebelumnya. Dimana angka ini mendekati target inflasi BoJ sebesar 2%, tetapi masih menyisakan pertanyaan besar, apakah inflasi ini cukup stabil untuk memicu kenaikan suku bunga?

Baca Juga: Energi Mahal, Inflasi Tokyo Kembali Merangkak

Menurut Gubernur BoJ, Kazuo Ueda, dalam pernyataannya melalui lansiran Bloomberg, Jumat (27/12/2024), menegaskan bahwa keputusan kenaikan suku bunga akan bergantung pada data ekonomi, harga, dan kondisi keuangan yang ada. Meski ia membuka peluang kenaikan suku bunga di Januari, beberapa ekonom memperkirakan langkah ini baru akan terjadi pada Maret.

Pasar tenaga kerja yang ketat menjadi salah satu alasan utama yang bisa mendorong kenaikan suku bunga. Tingkat pengangguran di Jepang tetap stabil di 2,5%, sementara rasio lowongan kerja terhadap pencari kerja bertahan di angka 1,25. 
 
Kondisi ini memberi tekanan pada perusahaan untuk menaikkan upah, yang dapat memperkuat daya beli masyarakat. Namun, inflasi akibat biaya energi yang tinggi juga menjadi perhatian, karena tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan permintaan domestik.

Data industri juga menunjukkan tantangan bagi BoJ. Produksi industri pada November turun 2,3% dibandingkan bulan sebelumnya, sementara penjualan ritel justru meningkat 1,8%. Angka ini menggambarkan ketidakseimbangan antara sektor manufaktur dan konsumsi.

Taro Kimura, seorang ekonom, menyebutkan bahwa BoJ kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga bertahap. “Kami memperkirakan kenaikan dari 0,25% menjadi 0,50% pada Januari, diikuti dua kali kenaikan 25 basis poin lagi di April dan Juli, sehingga mencapai 1,0%,” ungkapnya. 
 
Diharapkan, langkah ini bertujuan menjaga inflasi tetap terkendali tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi. Namun, kenaikan suku bunga juga memiliki risiko. Jika dilakukan terlalu cepat, hal ini bisa memperlambat konsumsi dan investasi, terutama di tengah ketidakpastian global. Oleh karena itu, keputusan BoJ akan menjadi penentu utama arah ekonomi Jepang di tahun 2024.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.