Ekonom Bloomberg Taksir Pertumbuhan Ekonomi RI pada 2025 Stagnan di Kisaran 5 Persem

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan akan stagnan di angka 5%. Berdasarkan hasil survei Bloomberg terhadap 31 ekonom pada 19-23 Desember, perlambatan laju ekonomi mulai terasa sejak paruh pertama tahun depan.
Tahun ini saja, perekonomian diperkirakan hanya tumbuh 5%, sedikit melambat dibandingkan capaian 2023 yang mencapai 5,05%.
Pada kuartal I-2025, pertumbuhan ekonomi diprediksi hanya mencapai 4,90% year-on-year (yoy), turun dari 5,11% pada kuartal yang sama tahun sebelumnya. Secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), diperkirakan terjadi kontraksi sebesar 0,69%.
Baca Juga: Hilirisasi dan Industrialisasi Mineral Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Perlambatan ini cukup mencolok mengingat faktor musiman seperti Ramadhan dan Idul Fitri biasanya memberikan dorongan signifikan. Ramadhan tahun depan akan dimulai pada akhir Februari, sedangkan Idul Fitri jatuh pada akhir Maret. Meski begitu, dampak positif dari festive seasons ini dinilai tidak cukup kuat.
Pada kuartal II-2025, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 5% yoy, sedikit lebih rendah dari prediksi awal 5,05%. Kuartal III dan IV-2025 juga diperkirakan tumbuh stagnan di 5% yoy.
Jika angka-angka ini benar, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 bisa dibilang tidak mengalami lonjakan signifikan.
Perlambatan ini tidak lepas dari dampak ekonomi global. Kenaikan tarif global, perang dagang, dan ketidakpastian pasar internasional menjadi tantangan besar. Selain itu, kebijakan suku bunga Bank Indonesia juga berpotensi tidak berubah signifikan karena tekanan dari kondisi global.
Dari dalam negeri, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan investasi yang melambat menjadi faktor utama. Meski pemerintah telah mencoba mendorong pertumbuhan melalui berbagai program, dampaknya dinilai belum optimal.
Kemudian jika melihat dari sisi lainnya. Mata uang rupiah diprediksi menghadapi tekanan berat pada 2025. Menurut Ahmad Mobeen, Senior Economist dari S&P Global Market Intelligence, rupiah kemungkinan akan melemah dibandingkan prediksi sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor global, termasuk kebijakan tarif dan perang dagang yang kembali memanas setelah Donald Trump terpilih lagi sebagai Presiden AS ke-47.
Rupiah memiliki level psikologis Rp16.500/USD, yang pernah tercapai saat pandemi Covid-19. Menurut Bloomberg Intelligence, level ini bisa kembali menjadi acuan penting jika kondisi global terus memburuk. Pada masa pandemi, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp16.575/USD. Tekanan serupa diperkirakan muncul pada 2025, terutama jika dolar AS terus menguat.
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah kebijakan suku bunga global. Kenaikan tarif global dapat membatasi ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Di sisi lain, perang dagang yang kembali digelorakan AS juga menambah ketidakpastian.
"Kondisi ini membuat pasar Asia, termasuk Indonesia, lebih rentan terhadap penguatan dolar AS," ujar Stephen Chiu dan Chunyu Zhang dari Bloomberg Intelligence.
Pelemahan rupiah dapat berdampak pada biaya impor yang meningkat, yang pada akhirnya mempengaruhi harga barang di dalam negeri. Hal ini dapat menekan daya beli masyarakat yang sudah melambat. Sektor-sektor yang bergantung pada impor, seperti manufaktur, juga akan menghadapi tantangan besar.
Namun, di sisi lain, pelemahan rupiah dapat menjadi keuntungan bagi sektor ekspor. Produk-produk Indonesia akan menjadi lebih kompetitif di pasar global. Ini bisa menjadi peluang, asalkan pemerintah dan pelaku usaha mampu memanfaatkan momentum.
Meski situasi terlihat menantang, bukan berarti tidak ada harapan. Langkah-langkah strategis seperti mendorong ekspor, memperkuat ketahanan ekonomi domestik, dan menjaga stabilitas moneter bisa membantu Indonesia menghadapi tahun depan dengan lebih baik. Namun, semua pihak harus bekerja sama untuk memastikan rupiah tetap stabil dan tidak jatuh terlalu dalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










