Akurat

BI Pro Stabilitas Atau Pertumbuhan? Ini Saran Ekonom

Hefriday | 19 November 2024, 18:22 WIB
BI Pro Stabilitas Atau Pertumbuhan? Ini Saran Ekonom

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) saat ini tengah dihadapkan pada dilema besar terkait kebijakan suku bunga acuan atau BI Rate.

Ekonom senior dan Associate Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi ekonomi Indonesia yang sedang rapuh akibat tekanan eksternal, khususnya fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Menurutnya, jika Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan BI Rate ke 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) kali ini, ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga di masa mendatang akan semakin terbatas.
 
Kiryanto menilai bahwa dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, prioritas Bank Indonesia sebaiknya berfokus pada stabilitas ekonomi, bukan pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
 
Dengan tekanan inflasi domestik yang terkendali dan perekonomian yang memang membutuhkan stimulus, BI dihadapkan pada pilihan sulit antara melonggarkan kebijakan moneter untuk mendukung pertumbuhan atau menjaga stabilitas yang lebih utama.
 
 
Menurutnya, salah satu faktor yang memberikan tekanan pada ekonomi Indonesia saat ini adalah fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih berada di kisaran Rp15.900 per dolar AS.
 
Nilai tukar yang lemah ini, menurut Kiryanto, sangat dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, terutama kemenangan Donald Trump dalam Pemilu Presiden Amerika Serikat yang menambah ketidakpastian di dunia internasional. 
 
Selain itu, langkah The Federal Reserve (The Fed) yang semakin enggan menurunkan suku bunga acuan (Federal Funds Rate / FFR) juga memengaruhi pasar global, termasuk Indonesia.
 
Kiryanto menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah sangat nyata belakangan ini. Dengan ketidakpastian global yang terus meningkat, Indonesia harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan yang berpotensi memperburuk kondisi nilai tukar. 
 
"Jika BI menurunkan suku bunga terlalu cepat atau terlalu banyak, dikhawatirkan akan semakin memperburuk tekanan pada rupiah," ujar Kiryanto dikutip Akurat.co, Selasa (19/11/2024).
 
Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa kebijakan yang pro-stabilitas lebih diutamakan daripada kebijakan yang pro-tumbuh.
 
Meskipun perekonomian Indonesia memerlukan stimulus moneter untuk mendukung pertumbuhan, Kiryanto berpendapat bahwa kebijakan yang bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi lebih penting saat ini.
 
Menurutnya, inflasi domestik memang terjaga dengan baik, namun jika BI terlalu agresif menurunkan suku bunga, hal tersebut bisa menambah beban terhadap nilai tukar dan memicu inflasi di masa depan.
 
Salah satu hal yang perlu diperhatikan, menurut Kiryanto, adalah kondisi pasar valuta asing yang sedang volatile. Fluktuasi nilai tukar yang besar dapat mengganggu kestabilan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
 
Oleh karena itu, BI harus lebih berhati-hati dalam merespons perubahan suku bunga acuan di tengah ketidakpastian global. "Keputusan yang lebih bijak adalah mempertahankan BI Rate di level 6 persen untuk kali ini," ujarnya.
 
Kiryanto juga menyoroti beberapa indikator ekonomi yang harus diperhatikan BI sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut. Salah satunya adalah pergerakan rupiah yang harus kembali menguat dan stabil di kisaran Rp15.300 per dolar AS. Rupiah yang stabil adalah salah satu syarat agar BI memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut di masa depan.
 
Selain itu, inflasi domestik juga harus tetap terjaga di kisaran 2,5%. Inflasi yang terkendali akan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga secara bertahap tanpa khawatir memicu lonjakan harga barang dan jasa. Di sisi lain, stabilitas politik domestik juga menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia.
 
Kiryanto menambahkan bahwa meskipun situasi perekonomian Indonesia membutuhkan stimulus, langkah yang lebih hati-hati dan bertahap tetap harus diutamakan. "Ke depan, BI masih memiliki ruang untuk menurunkan BI Rate minimal 25 basis points (bps), tetapi hanya jika kondisi nilai tukar dan inflasi tetap terjaga dengan baik," ujarnya.
 
Hal ini akan memberi ruang bagi perekonomian untuk tumbuh dengan stabil tanpa menimbulkan ketidakpastian lebih lanjut.
 
Dengan demikian, menurut Kiryanto, kebijakan Bank Indonesia ke depan harus lebih fokus pada kestabilan ekonomi jangka panjang. Meskipun terdapat potensi penurunan suku bunga, BI sebaiknya menunda pelonggaran lebih lanjut sampai indikator-indikator kunci seperti nilai tukar dan inflasi benar-benar stabil.
 
Keputusan ini, menurutnya, akan memberi dampak positif bagi kestabilan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
 
Meskipun ada dorongan untuk menurunkan BI Rate guna mendukung pertumbuhan, Ryan Kiryanto mengingatkan bahwa prioritas utama saat ini adalah menjaga stabilitas. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian global, menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi akan menjadi langkah yang lebih bijak dan rasional. 
 
Jika kondisi tersebut stabil, ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar akan terbuka, dan perekonomian Indonesia dapat kembali berada dalam jalur pertumbuhan yang lebih sehat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa