Akurat

BI Catatkan Surplus Anggaran Rp55,66 Triliun di Kuartal III-2024

Hefriday | 6 November 2024, 23:48 WIB
BI Catatkan Surplus Anggaran Rp55,66 Triliun di Kuartal III-2024

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa realisasi anggaran mencatat surplus signifikan sebesar Rp55,66 triliun hingga September 2024. Angka ini melampaui ekspektasi dan mencerminkan pengelolaan keuangan yang efektif oleh otoritas moneter nasional. 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengumumkan capaian tersebut dalam rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Rabu (6/11/2024).
 
Pada kesempatan yang sama, Perry juga memproyeksikan bahwa hingga akhir 2024, realisasi Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) diprediksi tetap surplus meskipun sedikit menurun menjadi Rp54,16 triliun. 
 
“Sampai September 2024, surplus anggaran tercatat Rp55,66 triliun, dan hingga akhir 2024, realisasi ATBI diprognosakan akan mengalami surplus sebesar Rp54,16 triliun,” ujar Perry di hadapan Komisi XI DPR RI.
 
Perry menjelaskan bahwa surplus anggaran ini terutama disebabkan oleh perbandingan antara total penerimaan dan pengeluaran BI yang menunjukkan selisih positif. Hingga kuartal ketiga 2024, penerimaan mencapai Rp169,6 triliun, sementara pengeluaran berada di angka Rp113,9 triliun.
 
 
Surplus tersebut didorong oleh dua faktor utama, yaitu anggaran kebijakan dan anggaran operasional, yang masing-masing memberikan kontribusi positif.
 
Secara rinci, anggaran kebijakan BI tercatat mengalami surplus sebesar Rp18,08 triliun hingga September 2024. Sementara itu, anggaran operasional BI mencatat surplus lebih besar, yakni Rp37,58 triliun. Kedua komponen ini menjadi pendorong utama atas kinerja positif anggaran BI sepanjang tahun berjalan.
 
Peningkatan penerimaan BI sebagian besar didorong oleh pendapatan domestik, terutama dari hasil investasi dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) yang menghasilkan yield atau imbal hasil yang kompetitif. Perry menjelaskan bahwa kupon atau yield dari SBN menjadi kontributor utama terhadap penerimaan BI, karena SBN yang dikelola oleh bank sentral memiliki imbal hasil yang meningkat.
 
Di sisi lain, cadangan devisa yang dikelola BI juga turut memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan. Imbal hasil cadangan devisa mencatatkan kenaikan, didorong oleh suku bunga global yang masih berada pada level tinggi. Kondisi ini memberikan peluang bagi Bank Indonesia untuk memaksimalkan pendapatan dari aset luar negeri.
 
Dalam hal pengeluaran, Perry menjelaskan bahwa BI tetap berfokus pada mandat bank sentral untuk menjaga stabilitas moneter. Pengeluaran kebijakan Bank Indonesia terutama terkait dengan pelaksanaan operasi moneter yang bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah. Upaya ini termasuk dalam langkah-langkah untuk menyesuaikan kebijakan moneter dengan perkembangan pasar global dan domestik.
 
Selain itu, kebijakan yang mendukung stabilitas sistem keuangan dan menjaga laju inflasi juga menjadi bagian dari anggaran pengeluaran BI. Meskipun sektor pengeluaran mengalami peningkatan, pengelolaan yang efisien mampu menjaga agar tidak terjadi defisit dalam realisasi anggaran BI.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa