Merapat ke BRICS, RI Bakal Dedolarisasi?

AKURAT.CO Pembentukan BRICS, aliansi ekonomi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, muncul sebagai salah satu strategi dalam menghadapi dominasi ekonomi global yang selama ini dipimpin oleh negara-negara Barat.
Apa Tujuan Utama BRICS?
- Membangun struktur finansial yang lebih inklusif bagi negara berkembang
- Mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembayaran berbasis dolar
- Memajukan kerja sama antar-negara untuk memperkuat posisi ekonomi global mereka
- Keberadaan BRICS membuka peluang bagi negara berkembang untuk berdialog, bernegosiasi, dan membangun kebijakan ekonomi bersama yang dapat mengurangi kerentanan terhadap krisis global yang seringkali disebabkan oleh fluktuasi dolar AS.
Beberapa alasan pentingnya dedolarisasi dalam BRICS antara lain:
1. Stabilitas Ekonomi
Sebagai langkah awal, BRICS telah meluncurkan New Development Bank (NDB) untuk mendanai proyek infrastruktur dan pembangunan di negara anggota dengan pembiayaan non-dolar.
Oleh karena itu secara tidak langsung, Dedolarisasi dalam BRICS menjadi penting sebagai upaya membentuk tatanan ekonomi yang lebih adil dan menyeimbangkan pengaruh AS dalam ekonomi global.
"Menurut saya bagus juga Indonesia bergabung dengan BRICS agar Indonesia tidak didominasi oleh negara-negara OECD," kata Hikmahanto, Minggu (27/10/2024).
OECD berperan membentuk agenda kebijakan ekonomi pembangunan melalui formulasi, standardisasi, serta diseminasi metodologi, analisis, dan praktik terbaik, khususnya pada sektor-sektor strategis seperti perpajakan, perdagangan, pendidikan, lingkungan, tata kelola publik, dan pembangunan internasional.
"Indonesia juga bisa menjaga jarak yang sama antara negara-negara yang bergabung dengan OECD dengan negara-negara yang tergabung dalam BRICS," kata Hikmahanto.
Intinya, lanjut Hikmahanto, kepentingan nasional kita diuntungkan dan tidak sebaliknya dirugikan.
Senada dengan Hikmahanto, Anggota DPR RI, H Fathi, mendukung rencana Pemerintah Republik Indonesia untuk bergabung dengan kelompok ekonomi BRICS Plus, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan guna memperkuat daya tawar negara-negara berkembang.
Menurutnya hal itu memiliki potensi besar untuk memperjuangkan hak dan kepentingan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam sistem ekonomi global. Selain itu, menurutnya langkah tersebut juga bisa juga membawa semangat solidaritas untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
"Kita berpeluang memperkuat posisi tawar negara-negara berkembang atau 'Global South' dalam isu-isu strategis, seperti pembangunan berkelanjutan, reformasi sistem multilateral yang lebih inklusif, serta solidaritas antarnegara berkembang," kata Fathi.
Menurut dia, kebijakan luar negeri ini adalah bentuk konkret dari komitmen pemerintah untuk memperjuangkan kepentingan nasional dalam lingkup internasional. Pasalnya, dia menilai keikutsertaan Indonesia dalam BRICS diharapkan bisa membuka jalan baru bagi perdagangan, investasi, dan kolaborasi yang lebih luas.
Untuk itu, dia berharap agar pemerintah dan seluruh pihak terkait memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam perekonomian global, terutama dalam hal investasi langsung dan pengembangan infrastruktur yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Saya akan mendukung sepenuhnya setiap kebijakan strategis yang mampu mengangkat harkat ekonomi bangsa dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat," kata Anggota Komisi XI DPR RI itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










