AKURAT.CO Formasi Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto menuai beragam tanggapan dari para pengamat.
Salah satu pandangan datang dari Vice President PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, yang menyoroti dilema antara mempertahankan stabilitas ekonomi dan melakukan gebrakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Menurut Wawan Hendrayana, di satu sisi, Prabowo tampaknya berambisi untuk melakukan terobosan besar guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain, langkah tersebut berpotensi meningkatkan risiko defisit jika tidak dikelola dengan kehati-hatian.
"Pak Prabowo ingin melakukan gebrakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui program-program yang akan dilakukan. Namun, tanpa pengawasan yang ketat terhadap pengeluaran, hal ini bisa menyebabkan defisit negara meningkat," ujar Wawan saat dihubungi Akurat.co, Selasa (22/10/2024).
Baca Juga: Postur APBN 2025 Masih Business as Usual
Oleh karena itu, keputusan Prabowo untuk tetap membawa tim ekonomi lama dari era Jokowi, seperti Sri Mulyani, Agus Gumiwang, Airlangga Hartarto, Zulkifli Hasan, dan Bahlil Lahadalia, dipandang sebagai langkah yang strategis. Para tokoh ini dianggap sudah terbukti mampu menjaga keuangan negara dalam koridor yang diizinkan, memberikan keyakinan kepada investor bahwa situasi fiskal akan tetap terkendali.
Salah satu kekuatan dari tim ekonomi yang dibawa dari kabinet Jokowi, menurut Wawan, adalah kemampuan mereka dalam menjaga stabilitas keuangan negara. Dengan demikian, Prabowo bisa memberikan jaminan kepada investor bahwa kebijakan fiskal akan tetap berhati-hati dan terukur.
"Pak Prabowo membawa tim ekonomi sebelumnya yang sudah terbukti mampu menjaga keuangan negara dalam koridor yang diijinkan, sehingga memberikan keyakinan pada investor bahwa keuangan negara akan terjaga," jelasnya. Stabilitas ini penting untuk menjaga sentimen positif dari para pelaku pasar dan mendorong investasi.
Namun, Wawan juga mengingatkan bahwa mempertahankan pendekatan yang sama seperti di era Jokowi, tanpa inovasi, akan membuat pertumbuhan ekonomi tetap terjebak di angka sekitar 5%. Ini bisa menjadi masalah bagi ambisi Prabowo yang ingin mendorong pertumbuhan ekonomi ke angka yang lebih tinggi, yakni di atas 6%.
"Jika tim ekonomi masih menerapkan pendekatan 'business as usual' seperti era Jokowi, maka pertumbuhan ekonomi akan tertahan di level maksimal 5 persen. Jadi, meskipun mengedepankan kehati-hatian, perlu ada terobosan dan keberanian untuk lebih agresif dalam pengeluaran pemerintah guna memacu pertumbuhan ekonomi hingga melebihi 6 persen," tambah Wawan.
Menurutnya, pengeluaran pemerintah yang lebih agresif, khususnya di sektor-sektor yang mendukung penciptaan lapangan kerja baru, sangat diperlukan. Hal ini tidak hanya akan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang dengan menurunkan tingkat pengangguran.
Poin utama yang disampaikan Wawan adalah bahwa kabinet ekonomi Prabowo harus berani mengambil langkah-langkah inovatif dan lebih berani dalam pengeluaran pemerintah. Meski demikian, pengeluaran tersebut harus tetap dijalankan dengan perencanaan yang matang agar tidak memicu defisit yang berlebihan.
"Walau tetap mengedepankan kehati-hatian, perlu ada terobosan dan keberanian untuk lebih agresif dalam government spending," kata Wawan.
Keputusan Prabowo untuk mempertahankan beberapa menteri ekonomi dari kabinet Jokowi membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, ini memberikan stabilitas dan keyakinan pada investor bahwa kebijakan fiskal akan tetap berhati-hati dan terkendali.
Namun, di sisi lain, diperlukan langkah-langkah baru yang lebih agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, terutama dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, tantangan utama bagi kabinet ekonomi Prabowo adalah bagaimana menyeimbangkan antara kehati-hatian fiskal dan inovasi dalam kebijakan ekonomi, sehingga bisa membawa Indonesia ke arah pertumbuhan yang lebih cepat dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini









