Akurat

Postur APBN 2025 Masih Business as Usual

Hefriday | 22 Oktober 2024, 23:15 WIB
Postur APBN 2025 Masih Business as Usual

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diprediksi tidak akan jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Meski terdapat pergeseran kecil dalam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025, sebagian besar kebijakan ekonomi dinilai masih mengikuti pola "business as usual".

Menurut Vice President PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, meskipun ada program baru seperti bantuan makan bergizi gratis, banyak elemen kebijakan ekonomi yang belum menunjukkan terobosan signifikan.

Wawan Hendrayana mengungkapkan bahwa APBN 2025 tidak menunjukkan perubahan besar yang bisa memacu pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari tren sebelumnya.
 
Salah satu program baru yang mencolok adalah anggaran sekitar Rp70 triliun untuk program makan bergizi gratis, namun hal ini dianggap belum cukup untuk membawa perubahan substansial pada perekonomian Indonesia.

"Postur APBN 2025 masih business as usual. Memang ada pergeseran dengan menambahkan program makan gizi gratis senilai Rp70 triliunan, tapi yang lain masih sama saja," ujar Wawan saat dihubungi Akurat.co, Selasa (22/10/2024).
 
Baca Juga: Ini Yang Perlu Diatasi Tim Ekonomi KMP di 100 Hari Pertama

Ia juga menyoroti bahwa pemerintah mungkin harus mempertimbangkan pergeseran subsidi untuk menutup biaya program tersebut, yang bisa berdampak pada kebijakan lainnya, seperti potensi kenaikan tarif bahan bakar minyak (BBM) atau transportasi.

"Dengan demikian, untuk 2025, pertumbuhan ekonomi masih akan diperkirakan berada di level 5 persen," tambahnya.

Wawan Hendrayana menekankan bahwa tantangan besar bagi kabinet Prabowo adalah bagaimana membawa inovasi baru yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari 5%.
 
Meskipun tim ekonomi Prabowo banyak berisi wajah-wajah lama seperti Sri Mulyani dan Airlangga Hartarto, yang sudah terbukti mampu menjaga stabilitas ekonomi, upaya ini dinilai belum cukup untuk membawa lonjakan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi tanpa adanya terobosan baru.

"Saya masih menunggu program kabinet terpilih untuk melihat apakah ada inovasi yang akan dilakukan," ungkap Wawan.

Menurutnya, stagnasi di angka 5% akan terus berlanjut jika tidak ada perubahan drastis dalam pendekatan kebijakan, terutama di sektor-sektor strategis yang dapat mendongkrak penciptaan lapangan kerja dan produktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Wawan percaya bahwa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari 5%, diperlukan langkah-langkah kebijakan yang lebih inovatif. Salah satunya adalah melalui penyesuaian kebijakan fiskal yang lebih berani dan mendorong belanja modal yang produktif. Namun, di sisi lain, pemerintah juga harus tetap berhati-hati dalam menjaga defisit anggaran agar tidak berlebihan.

Meski tim ekonomi di bawah Prabowo sudah terbukti mampu menjaga keuangan negara dengan baik, Wawan mengingatkan bahwa kebijakan "business as usual" tidak akan cukup untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di atas 6%, apalagi jika tidak ada upaya konkret dalam melakukan reformasi struktural di berbagai sektor.

Meskipun tim ekonomi Prabowo berisikan tokoh-tokoh berpengalaman dari kabinet sebelumnya, Wawan menegaskan pentingnya melakukan terobosan yang lebih berani. Keputusan untuk mempertahankan program-program lama tanpa inovasi, meski menjamin stabilitas, akan sulit untuk membawa Indonesia ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi.

"Saya berharap ada terobosan baru di kabinet merah putih. Tanpa inovasi, kita akan terus bergerak di sekitar angka 5 persen, padahal ada peluang untuk lebih," pungkasnya.

Dengan postur APBN 2025 yang cenderung stagnan dan minim inovasi, Wawan Hendrayana memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di angka sekitar 5%. Meski ada beberapa program baru seperti bantuan makan gizi gratis, tantangan besar bagi pemerintahan Prabowo adalah bagaimana melakukan terobosan kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. 
 
Wajah-wajah lama di kabinet ekonomi memang membawa stabilitas, tetapi di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada kebutuhan untuk keluar dari pola "business as usual" dan menciptakan inovasi kebijakan yang lebih agresif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa